Dua serangan ke jantung Islam—satu di abad kesepuluh, satu di penghujung 1979—mengajarkan hal yang sama: ekstremisme tidak punya satu wajah, dan sejarah menolak dipenggal separuh.
KOSONGSATU.ID — Setiap tahun, jutaan orang memadati Makkah membawa doa dan keheningan batin. Mereka menanggalkan nama, pangkat, dan warna bendera—menemukan kesetaraan di depan Kakbah.
Namun di balik citra damai itu, lembaran sejarah menyimpan luka yang jarang dibaca tuntas: tempat suci ini pernah terkoyak, bukan sekali, bukan oleh satu tangan.
Pernyataan pendakwah Khalid Basalamah yang menyebut kelompok Syiah pernah menyerang Kakbah kembali memantik percakapan lama. Pernyataan itu mengandung benang sejarah yang nyata, tetapi benang yang dipotong terlalu pendek—sehingga gambar yang terbentuk menjadi miring.
Menyajikan sepotong fakta tanpa konteksnya yang utuh bukan sekadar kelalaian; dalam iklim sosial yang mudah tersulut, itu bisa menjadi sumbu.
Luka Abad ke-10 dan Kesalahan Membaca Afiliasi
Serangan paling dikenal terjadi pada 930 Masehi, ketika pasukan Qaramithah di bawah komando Abu Thahir al-Janabi menyerbu Makkah di musim haji. Kekejaman mereka tak terbantahkan: jamaah dibunuh, mayat dibuang ke sumur Zamzam, dan Hajar Aswad—batu hitam yang dimuliakan—dicongkel dan dibawa pergi selama lebih dari dua dekade. Ini bukan mitos; ini sejarah.
Kelompok Qaramithah memang tumbuh dari akar pemikiran Syiah Ismailiyah. Di sini biasanya narasi berhenti. Padahal di titik inilah konteks paling krusial justru dimulai. Dinasti Fatimiyah—kekuatan Syiah Ismailiyah terbesar saat itu—bereaksi keras.
Para khalifah Fatimiyah mengirimkan kutukan tertulis kepada Abu Thahir dan mendesak pengembalian Hajar Aswad. Tindakan barbar Qaramithah bukan cerminan ajaran mereka, melainkan pengkhianatan terhadapnya.
Ada pula klaim yang mengutip sejarawan klasik Ibnu Katsir untuk menuduh pendiri Dinasti Fatimiyah sebagai Yahudi yang menyamar. Analisis sejarah modern menepis klaim itu. Tuduhan tersebut bersumber dari Manifesto Baghdad tahun 1011 M—sebuah kampanye hitam yang dirancang Kekhalifahan Abbasiyah untuk meruntuhkan legitimasi rival politiknya.
Menelannya mentah-mentah berarti membiarkan propaganda abad ke-11 membentuk persepsi kita hari ini.
1979: Ancaman dari Dalam Negeri Sendiri
Lompat ke 20 November 1979. Di hari pertama tahun baru Islam ke-1400, ancaman datang bukan dari luar negeri—melainkan dari jantung Semenanjung Arab itu sendiri. Seorang mantan kopral Garda Nasional Saudi bernama Juhaiman al-Utaibi memimpin ratusan pengikutnya menyelundupkan senjata ke dalam Masjidil Haram, tersembunyi di dalam peti jenazah.
Kelompok ini tidak memiliki afiliasi dengan Syiah atau Iran. Penulis Robert Lacey dalam Inside the Kingdom menyebutnya sebagai gerakan Neo-Salafi berhaluan ultra-radikal—para pemuda yang menolak modernisasi Saudi dan terbakar keyakinan apokaliptik.
Juhaiman mendeklarasikan saudara iparnya sebagai Imam Mahdi. Baku tembak berlangsung dua pekan, menewaskan ratusan jiwa.
Yaroslav Trofimov, jurnalis The Wall Street Journal, membedah peristiwa ini secara mendalam dalam The Siege of Mecca. Melalui kesaksian langsung dan dokumen intelijen, Trofimov menegaskan bahwa pemberontak mayoritas adalah warga Arab Saudi, dengan sebagian rekrutan dari Mesir, Yaman, dan Kuwait.
Tidak ada satu pun dokumen sejarah yang mengonfirmasi keterlibatan warga Iran.
Kesaksian yang Meluruskan
Husain Alatas, yang saat itu tengah menunaikan ibadah haji di Makkah, menyaksikan langsung peristiwa 1979. Dalam rekaman yang beredar, ia meluruskan narasi yang menyebut serangan itu dilakukan orang-orang Persia.
“Pada tahun 1979 saya berangkat dari Mesir menunaikan ibadah haji. Terjadi kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok Juhaiman. Mereka masuk ke dalam Masjid Al-Haram dengan mempergunakan kurung batang jenazah yang ternyata berisi senjata,” ungkapnya—sebuah kesaksian mata yang sulit dipatahkan oleh narasi yang dibangun dari jarak ribuan kilometer dan puluhan tahun kemudian.
Lebih jauh, Ustaz Husain mengingatkan ancaman hadis sahih riwayat Al-Bukhari tentang syahadatu zur—kesaksian palsu—sebagai dosa besar. Bukan sekadar koreksi historis; ini peringatan etis yang lahir dari tradisi keilmuan Islam itu sendiri.
Musuh yang Sesungguhnya
Sejarah, jika dibaca lengkap, tidak memberi siapa pun keistimewaan untuk merasa paling suci. Kakbah pernah dinodai oleh ekstremis dari berbagai latar—Ismailiyah garis keras di abad kesepuluh, Neo-Salafi di abad kedua puluh. Yang menjadi benang merahnya bukan sekte atau afiliasi, melainkan radikalisme itu sendiri: keyakinan bahwa tujuan membenarkan cara, bahwa kekerasan adalah bahasa Tuhan.
Memilih-milih fakta sejarah untuk memperkuat sentimen kelompok sendiri adalah godaan yang selalu ada. Tapi ia adalah godaan yang mahal. Di era informasi yang bergerak cepat dan mudah tersulut, narasi yang sepotong-sepotong bisa menjelma kebencian yang utuh.
Mereka yang jutaan itu datang ke Makkah setiap tahun, menanggalkan identitas duniawi mereka—barangkali karena mereka tahu, di hadapan Kakbah, yang tersisa hanyalah manusia. Bukan Syiah, bukan Sunni, bukan Salafi. Manusia.***
Referensi:
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari.
- Lacey, Robert. (2009). Inside the Kingdom. Viking Press.
- Trofimov, Yaroslav. (2007). The Siege of Mecca. Doubleday.
- Kesaksian Ustaz Husain Alatas via Instagram @_ummatanwahidah_





Tinggalkan Balasan