Penggunaan mulai bermasalah ketika seseorang merasa cemas jika chatbot tidak menjawab sesuai harapan, terus mengulang pertanyaan sampai memperoleh pembenaran, atau menganggap AI sebagai satu-satunya pihak yang memahami dirinya.

Tanda lainnya adalah menarik diri dari keluarga, sekolah, pekerjaan, dan pertemanan; menyerahkan keputusan penting kepada chatbot; atau melakukan pengobatan sendiri berdasarkan jawabannya.

“Ini mulai tidak sehat jika seseorang mengalami distress emosional jika tidak mendapatkan respons dari bot,” kata Ghina.

Privasi menjadi batas lain yang kerap terlupakan. Curhat dapat memuat identitas, kondisi medis, pengalaman kekerasan, konflik pekerjaan, orientasi seksual, hingga informasi sensitif milik orang lain.

Percakapan dengan layanan digital tidak otomatis memiliki perlindungan kerahasiaan seperti konsultasi profesional. Nama lengkap, alamat, nomor identitas, dokumen medis, identitas korban, dan rahasia pekerjaan sebaiknya tidak dimasukkan.

Ketika seseorang berpikir untuk melukai diri atau orang lain, menyusun rencana bunuh diri, mengalami halusinasi, merasa diawasi tanpa dasar yang dapat diperiksa, atau tidak mampu menjaga keselamatannya, percakapan dengan chatbot harus dihentikan.

Kementerian Kesehatan menyediakan Healing119.id untuk pertolongan pertama psikologis melalui 119 ekstensi 8 serta layanan percakapan di situsnya. Layanan itu pun bukan terapi jangka panjang, melainkan dukungan awal dan jalur menuju pertolongan lanjutan.

Pada akhirnya, ukuran penggunaan yang sehat bukan seberapa nyaman jawaban AI terdengar. Ukurannya adalah apakah percakapan itu membantu seseorang kembali ke kehidupan nyata, berpikir lebih jernih, dan terhubung dengan manusia—atau justru membuat layar menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman.***


Sumber terkonfirmasi: RAND/JAMA Pediatrics, studi OpenAI–MIT Media Lab, Unit Konsultasi Psikologi UGM, dan Kementerian Kesehatan.