Dengan kata lain, penggunaannya meningkat lebih dari 40 persen hanya dalam setahun.
Yang membuat temuan tersebut menonjol adalah pembandingnya. Dalam survei yang sama, 19,8 persen responden melaporkan pernah memperoleh konseling dari tenaga kesehatan mental.
Proporsi anak muda yang mengadu kepada AI dengan demikian hampir menyamai mereka yang menerima konseling. Namun, kesamaan angka tidak berarti kualitas kedua layanan itu setara.
Di antara pengguna chatbot, 42,8 persen meminta nasihat sedikitnya sekali dalam sebulan. Sebanyak 91,7 persen menganggap jawabannya cukup atau sangat membantu.
Akan tetapi, 63,3 persen tidak memberi tahu siapa pun bahwa mereka meminta bantuan kesehatan mental kepada AI. Percakapan itu berlangsung di luar pengetahuan orang tua, dokter, konselor, atau orang dewasa lain yang dipercaya.
Studi yang diterbitkan melalui JAMA Pediatrics tersebut merupakan survei potong lintang. Peneliti memotret perilaku pada satu periode, bukan mengikuti seluruh responden untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.
Data itu tidak dapat menjawab apakah chatbot membuat kondisi mental pengguna membaik atau memburuk. Penilaian “membantu” juga berasal dari persepsi pengguna, bukan evaluasi klinis atas ketepatan jawabannya.

Mengapa Mesin Terasa Lebih Aman?
Chatbot menawarkan lima hal yang sulit diberikan manusia secara bersamaan: tersedia setiap saat, menjawab dengan cepat, tidak memperlihatkan ekspresi menghakimi, membiarkan pengguna mengendalikan cerita, dan dapat ditinggalkan kapan saja.
Bagi orang yang takut distigma atau tidak memiliki ruang komunikasi di rumah, karakter tersebut dapat menciptakan rasa aman. Mengungkapkan keluhan kepada mesin terasa lebih ringan daripada mengakui kerentanan di depan orang lain.
Unit Konsultasi Psikologi Universitas Gadjah Mada pada Maret 2026 menilai AI dapat berperan sebagai dukungan awal dan menjembatani kebutuhan emosional secara cepat. Namun, ketersediaannya yang konstan juga membawa risiko ketergantungan dan isolasi sosial.
Prof Ridi Ferdiana dari Universitas Gadjah Mada mengingatkan bahwa jawaban yang konsisten tidak boleh disamakan dengan kepedulian.





Tinggalkan Balasan