Belum ada dasar kuat untuk menyatakan chatbot sendirian menyebabkan psikosis pada orang sehat. Istilah yang lebih hati-hati adalah delusi yang berkaitan dengan atau diperkuat oleh interaksi bersama AI.

Riset OpenAI dan Massachusetts Institute of Technology Media Lab pada 2025 juga memperlihatkan bahwa keterlibatan emosional terkonsentrasi pada kelompok kecil pengguna berat.

Penelitian itu menganalisis lebih dari empat juta percakapan secara otomatis dan menyurvei lebih dari 4.000 pengguna. Eksperimen terpisah melibatkan hampir 1.000 peserta selama empat minggu.

Hasilnya tidak menunjukkan bahwa semua percakapan emosional dengan AI selalu merugikan. Dampaknya berkaitan dengan durasi pemakaian, pola interaksi, kondisi awal pengguna, dan cara mereka memandang chatbot.

Pemakaian harian yang lebih panjang berkaitan dengan kesepian, ketergantungan emosional, dan penggunaan bermasalah yang lebih tinggi. Namun, hubungan tersebut tidak seluruhnya membuktikan sebab-akibat: orang yang sejak awal kesepian mungkin memang lebih sering mencari chatbot.

Temuan itu membuat jumlah percakapan saja tidak cukup menjadi ukuran. Seseorang dapat memakai AI setiap hari untuk menyusun jurnal tanpa ketergantungan, sementara pengguna lain dapat bermasalah meskipun lebih jarang mengaksesnya.

[GRAFIK: Spektrum penggunaan AI—alat refleksi, sumber informasi awal, ketergantungan emosional, hingga pengganti hubungan dan pertolongan profesional]

Batas antara Alat Bantu dan Ketergantungan

Psikolog klinis Ghina Sakinah Safari mengatakan penggunaan masih dapat dianggap sehat apabila chatbot berfungsi sebagai sarana eksplorasi awal.

“Masih sehat jika sekadar menjadi alat bantu berpikir, menulis jurnal, atau memahami emosi,” kata Ghina.

Dalam batas itu, AI dapat membantu pengguna menamai emosi, merancang pertanyaan jurnal, merapikan kata-kata sebelum percakapan sulit, atau mencatat keluhan yang akan dibawa kepada psikolog maupun psikiater.

Chatbot juga dapat menerangkan istilah umum, tetapi penjelasannya harus diperiksa melalui sumber kesehatan tepercaya. Ia bukan terapis, pemberi diagnosis, atau pembuat keputusan.