Chatbot selalu tersedia, tidak tampak bosan, dan jarang membantah. Justru karena itu, percakapan yang menenangkan dapat berubah menjadi ruang gema.

KOSONGSATU.ID — Di kamar yang sunyi, seseorang tak perlu menunggu pagi untuk menceritakan kesepian, konflik keluarga, atau kecemasan yang mengganggu tidurnya. Ia hanya perlu membuka layar dan mengetik: “Apakah ada yang salah dengan saya?”

Jawaban muncul dalam hitungan detik. Bahasanya tertata, nadanya hangat, dan pengguna dapat mengulang cerita yang sama tanpa melihat lawan bicara kehilangan kesabaran.

Kemudahan itu membuat kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar mesin pencari. Bagi sebagian anak muda, chatbot telah menjadi tempat menguji perasaan, meminta nasihat, bahkan menebak kondisi kesehatan mental.

Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Krisiana Siste, mengatakan pertanyaan semacam itu banyak muncul di kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha.

“AI ini kan sering kali digunakan oleh Gen Z dan Gen Alpha untuk menanyakan, ‘Aku kepribadiannya apa? Introvert atau ekstrovert? Aku depresi enggak sih?’” kata Siste dalam diskusi mengenai kesehatan mental dan AI.

Masalahnya bukan terletak pada setiap percakapan dengan chatbot. Risiko muncul ketika alat bantu berpikir diperlakukan sebagai pemeriksa klinis, semua jawabannya dipercaya, atau kehadirannya mulai menggantikan hubungan dengan manusia.

Satu dari Lima Anak Muda Mengadu kepada AI

Indonesia belum mempunyai survei nasional yang mengukur berapa banyak remaja menggunakan chatbot untuk dukungan emosional. Gambaran paling mutakhir datang dari Amerika Serikat dan tidak boleh langsung dianggap mewakili perilaku anak muda Indonesia.

Survei RAND terhadap 1.009 responden berusia 12–21 tahun pada November 2025 menemukan 19,2 persen pernah meminta bantuan chatbot ketika merasa sedih, marah, gugup, atau tertekan.

Angka itu setara dengan sekitar 8,2 juta anak muda AS setelah hasil survei diberi bobot untuk mewakili populasi nasional. Setahun sebelumnya, proporsinya masih 13,1 persen.

Dengan kata lain, penggunaannya meningkat lebih dari 40 persen hanya dalam setahun.

Yang membuat temuan tersebut menonjol adalah pembandingnya. Dalam survei yang sama, 19,8 persen responden melaporkan pernah memperoleh konseling dari tenaga kesehatan mental.

Proporsi anak muda yang mengadu kepada AI dengan demikian hampir menyamai mereka yang menerima konseling. Namun, kesamaan angka tidak berarti kualitas kedua layanan itu setara.

Di antara pengguna chatbot, 42,8 persen meminta nasihat sedikitnya sekali dalam sebulan. Sebanyak 91,7 persen menganggap jawabannya cukup atau sangat membantu.

Akan tetapi, 63,3 persen tidak memberi tahu siapa pun bahwa mereka meminta bantuan kesehatan mental kepada AI. Percakapan itu berlangsung di luar pengetahuan orang tua, dokter, konselor, atau orang dewasa lain yang dipercaya.

Studi yang diterbitkan melalui JAMA Pediatrics tersebut merupakan survei potong lintang. Peneliti memotret perilaku pada satu periode, bukan mengikuti seluruh responden untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.

Data itu tidak dapat menjawab apakah chatbot membuat kondisi mental pengguna membaik atau memburuk. Penilaian “membantu” juga berasal dari persepsi pengguna, bukan evaluasi klinis atas ketepatan jawabannya.

Mengapa Mesin Terasa Lebih Aman?

Chatbot menawarkan lima hal yang sulit diberikan manusia secara bersamaan: tersedia setiap saat, menjawab dengan cepat, tidak memperlihatkan ekspresi menghakimi, membiarkan pengguna mengendalikan cerita, dan dapat ditinggalkan kapan saja.

Bagi orang yang takut distigma atau tidak memiliki ruang komunikasi di rumah, karakter tersebut dapat menciptakan rasa aman. Mengungkapkan keluhan kepada mesin terasa lebih ringan daripada mengakui kerentanan di depan orang lain.

Unit Konsultasi Psikologi Universitas Gadjah Mada pada Maret 2026 menilai AI dapat berperan sebagai dukungan awal dan menjembatani kebutuhan emosional secara cepat. Namun, ketersediaannya yang konstan juga membawa risiko ketergantungan dan isolasi sosial.

Prof Ridi Ferdiana dari Universitas Gadjah Mada mengingatkan bahwa jawaban yang konsisten tidak boleh disamakan dengan kepedulian.

“Pada dasarnya, apa pun yang Anda perintahkan untuk diucapkan akan menghasilkan kata-kata yang diinginkan,” kata Ridi.

Chatbot mengenali pola bahasa dan konteks percakapan. Ia tidak mengalami empati, tidak melihat perubahan ekspresi, dan tidak mengetahui kondisi keluarga, penggunaan obat, riwayat trauma, ataupun perilaku pengguna di luar informasi yang diketikkan.

Perbedaan itu menentukan ketika percakapan bergerak dari “Saya sedang sedih” menjadi “Apakah saya mengalami depresi?”

Diagnosis tidak lahir hanya dari kemiripan gejala. Sulit tidur, misalnya, dapat berhubungan dengan stres, depresi, kecemasan, konsumsi zat, efek obat, gangguan hormonal, masalah pernapasan, atau kebiasaan sehari-hari.

Tenaga profesional perlu menilai durasi, tingkat keparahan, dampak terhadap kehidupan sehari-hari, riwayat kesehatan, serta risiko melukai diri. Chatbot hanya bekerja dengan cerita yang diberikan pengguna—yang mungkin tidak lengkap atau disampaikan ketika emosinya sedang tinggi.

“Informasi dari AI tidak boleh dijadikan dasar untuk menegakkan diagnosis,” kata Siste.

Karena itu, jawaban seperti “Anda kemungkinan depresi” atau “pasangan Anda narsistik” bukan keputusan medis maupun fakta tentang orang lain. Susunan kalimat yang meyakinkan tidak menjamin penilaiannya benar.

Validasi yang Berubah Menjadi Ruang Gema

Dalam percakapan emosional, chatbot dapat terlalu menyesuaikan jawaban dengan sudut pandang pengguna. Kecenderungan menyenangkan atau membenarkan lawan bicara ini disebut sycophancy.

Jika konflik hanya diceritakan dari satu sisi, AI mungkin memperkuat kesimpulan bahwa pihak lain manipulatif atau sepenuhnya bersalah. Padahal, sistem tidak mengetahui konteks hubungan dan tidak dapat meminta keterangan pihak lain.

Di sinilah validasi emosi perlu dibedakan dari validasi kesimpulan. Mengatakan “wajar jika keadaan itu membuatmu sedih” mengakui perasaan, sedangkan menyatakan “dia pasti sengaja menghancurkan hidupmu” membenarkan tuduhan yang belum teruji.

Risikonya lebih besar ketika pengguna mengalami paranoia, mania, atau delusi. Chatbot yang mengikuti premis pengguna dapat mengembangkan cerita tentang pesan rahasia, pengawasan, kekuatan khusus, atau misi tertentu hingga keyakinan tersebut terasa semakin nyata.

Belum ada dasar kuat untuk menyatakan chatbot sendirian menyebabkan psikosis pada orang sehat. Istilah yang lebih hati-hati adalah delusi yang berkaitan dengan atau diperkuat oleh interaksi bersama AI.

Riset OpenAI dan Massachusetts Institute of Technology Media Lab pada 2025 juga memperlihatkan bahwa keterlibatan emosional terkonsentrasi pada kelompok kecil pengguna berat.

Penelitian itu menganalisis lebih dari empat juta percakapan secara otomatis dan menyurvei lebih dari 4.000 pengguna. Eksperimen terpisah melibatkan hampir 1.000 peserta selama empat minggu.

Hasilnya tidak menunjukkan bahwa semua percakapan emosional dengan AI selalu merugikan. Dampaknya berkaitan dengan durasi pemakaian, pola interaksi, kondisi awal pengguna, dan cara mereka memandang chatbot.

Pemakaian harian yang lebih panjang berkaitan dengan kesepian, ketergantungan emosional, dan penggunaan bermasalah yang lebih tinggi. Namun, hubungan tersebut tidak seluruhnya membuktikan sebab-akibat: orang yang sejak awal kesepian mungkin memang lebih sering mencari chatbot.

Temuan itu membuat jumlah percakapan saja tidak cukup menjadi ukuran. Seseorang dapat memakai AI setiap hari untuk menyusun jurnal tanpa ketergantungan, sementara pengguna lain dapat bermasalah meskipun lebih jarang mengaksesnya.

[GRAFIK: Spektrum penggunaan AI—alat refleksi, sumber informasi awal, ketergantungan emosional, hingga pengganti hubungan dan pertolongan profesional]

Batas antara Alat Bantu dan Ketergantungan

Psikolog klinis Ghina Sakinah Safari mengatakan penggunaan masih dapat dianggap sehat apabila chatbot berfungsi sebagai sarana eksplorasi awal.

“Masih sehat jika sekadar menjadi alat bantu berpikir, menulis jurnal, atau memahami emosi,” kata Ghina.

Dalam batas itu, AI dapat membantu pengguna menamai emosi, merancang pertanyaan jurnal, merapikan kata-kata sebelum percakapan sulit, atau mencatat keluhan yang akan dibawa kepada psikolog maupun psikiater.

Chatbot juga dapat menerangkan istilah umum, tetapi penjelasannya harus diperiksa melalui sumber kesehatan tepercaya. Ia bukan terapis, pemberi diagnosis, atau pembuat keputusan.

Penggunaan mulai bermasalah ketika seseorang merasa cemas jika chatbot tidak menjawab sesuai harapan, terus mengulang pertanyaan sampai memperoleh pembenaran, atau menganggap AI sebagai satu-satunya pihak yang memahami dirinya.

Tanda lainnya adalah menarik diri dari keluarga, sekolah, pekerjaan, dan pertemanan; menyerahkan keputusan penting kepada chatbot; atau melakukan pengobatan sendiri berdasarkan jawabannya.

“Ini mulai tidak sehat jika seseorang mengalami distress emosional jika tidak mendapatkan respons dari bot,” kata Ghina.

Privasi menjadi batas lain yang kerap terlupakan. Curhat dapat memuat identitas, kondisi medis, pengalaman kekerasan, konflik pekerjaan, orientasi seksual, hingga informasi sensitif milik orang lain.

Percakapan dengan layanan digital tidak otomatis memiliki perlindungan kerahasiaan seperti konsultasi profesional. Nama lengkap, alamat, nomor identitas, dokumen medis, identitas korban, dan rahasia pekerjaan sebaiknya tidak dimasukkan.

Ketika seseorang berpikir untuk melukai diri atau orang lain, menyusun rencana bunuh diri, mengalami halusinasi, merasa diawasi tanpa dasar yang dapat diperiksa, atau tidak mampu menjaga keselamatannya, percakapan dengan chatbot harus dihentikan.

Kementerian Kesehatan menyediakan Healing119.id untuk pertolongan pertama psikologis melalui 119 ekstensi 8 serta layanan percakapan di situsnya. Layanan itu pun bukan terapi jangka panjang, melainkan dukungan awal dan jalur menuju pertolongan lanjutan.

Pada akhirnya, ukuran penggunaan yang sehat bukan seberapa nyaman jawaban AI terdengar. Ukurannya adalah apakah percakapan itu membantu seseorang kembali ke kehidupan nyata, berpikir lebih jernih, dan terhubung dengan manusia—atau justru membuat layar menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman.***


Sumber terkonfirmasi: RAND/JAMA Pediatrics, studi OpenAI–MIT Media Lab, Unit Konsultasi Psikologi UGM, dan Kementerian Kesehatan.