Janji 3 juta rumah masih seret. Baru 190 ribu unit terwujud, dengan segala dinamikanya. Sementara di bagian lain, anak muda Shiddiqiyyah membuktikan jika gotong royong bisa lahirkan rumah layak, tanpa menunggu ribet birokrasi.
KOSONGSATU.ID – Membeli rumah kini terasa seperti mimpi untuk kelas menengah ke bawah. Padahal, Presiden Prabowo Subianto sudah menancapkan janji besar: membangun tiga juta rumah selama masa pemerintahannya.
Target jumbo itu kini dipanggul duet Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan wakilnya, Fahri Hamzah.
Namun, realita di lapangan jauh dari gemilang. Hingga Agustus 2025, capaian baru 190.335 unit—sekitar 6 persen saja dari target. Angka itu pun gabungan rumah yang sudah dibangun atau akad (40.967 unit) dan penyaluran KPR subsidi FLPP (149.368 unit).
Janji Politik yang Penuh Rintangan
Pemerintah bukannya diam. Presiden menaikkan kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari 220 ribu ke 350 ribu unit. Dana ada, instruksi jelas. Tapi, seperti diakui Fahri Hamzah, “Hambatan struktural terlalu tebal.” (RealEstat.id, 25/8).
Harga tanah menyumbang hingga 40 persen harga rumah. Perizinan berlapis bikin pengembang malas. Daya beli masyarakat pun rendah, banyak yang ragu masuk akad meski cicilannya disubsidi.
Fahri menyarankan adanya lembaga off-taker khusus perumahan, mirip Bulog yang menampung gabah petani. “Pengembang hanya bangun di lahan yang ditunjuk, pemerintah yang menampung,” jelasnya.
Maruarar punya jurus lain: bikin bank tanah khusus perumahan, menghidupkan kembali Perumnas, hingga memperluas akses KUR Perumahan. Ada pula BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) yang ditargetkan naik delapan kali lipat pada 2026.
Tapi mesin fiskal PKP baru jalan setengah. Pertengahan September, serapan anggaran baru 34,58 persen dari Rp 5,27 triliun.
Gotong Royong ala OPSHID: Dari Rakyat untuk Rakyat
Di luar jalur birokrasi, sebuah kisah berbeda lahir dari Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) yang berpusat di Jombang, Jawa Timur. Saban tahun organisasi ini membangun puluhan rumah layak huni. Modalnya? Iuran pribadi dan gotong royong jama’ah, bukan APBN.
Mereka menamainya Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS). Tahun ini, namanya ditambah jadi RSLHS Fatchan Mubiina, lambang kemenangan bersama lewat syukur dan kebersamaan.

“Kami sedang menulis sejarah, bahwa kebersamaan dan gotong royong bisa melahirkan kemenangan nyata,” kata Mulyono, Sekretariat DPP OPSHID FKYME, dikutip dari Opshidmedia, Jumat (18/9).
Target awalnya, tahun ini membangun 90 unit. Tapi antusiasme warga Shiddiqiyyah rupanya melampaui ekspektasi. Hingga pertengahan September tahun ini, sudah tercatat ada 92 rumah gratis bakal dibangun untuk mereka yang membutuhkan.
Dua Jalan, Satu Tujuan
Cerita OPSHID jadi pengingat: masalah perumahan rakyat bukan hanya urusan dana negara yang dikelola pemerintah, tapi juga urusan inisiatif sosial. Pemerintah memang memikul janji politik besar dengan segala kerumitan lahan, izin, dan data. Tapi masyarakat bisa membuktikan bahwa gotong royong, walau sederhana, bisa nyata menghadirkan rumah untuk rakyat.
Dua jalur, dua skala, tapi satu tujuan: memastikan orang kecil punya tempat tinggal layak. Negara lewat program 3 juta rumah, pemuda lewat rumah gotong royong.***




Tinggalkan Balasan