Syaikh Ibrahim Al-Bajuri (wafat 1860 M) dalam kitab Tuhfatul Murid Syarh Jauharah At-Tauhid (hlm. 58) memetakan empat tipe keyakinan manusia terhadap kekuatan sebuah benda. Pertama, kafir: jika meyakini keris berkuasa sendiri, lepas dari kehendak Allah. Kedua, fasik: jika menganggap kekuatan gaib itu titipan permanen Allah di dalam benda. 

Ketiga, jahil: jika meyakini benda itu tak mungkin gagal karena hukum sebab-akibat yang mutlak. Keempat — dan inilah posisi yang selamat — mukmin: jika memahami keris hanya sebagai jalan biasa (sunnatullah) yang seluruh kekuatannya murni atas kehendak Allah, dan bisa dicabut kapan pun.

Selama keris dirawat sebagai koleksi, diapresiasi sejarahnya, dan tidak dipuja sebagai sumber manfaat atau mudarat di luar ketetapan-Nya, ia bersih dari syirik.

Analogi yang Menohok dari Gus Baha

KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) pernah menyinggung soal ini dalam salah satu ceramahnya. Ia membandingkan orang Jawa tempo dulu yang tidak nyaman tanpa membawa keris dengan orang kota modern yang tidak nyaman tanpa ponsel atau kartu ATM.

Kira-kira begini logika Gus Baha: “Kalau orang membawa keris menjadi syirik karena percaya sama makhluk, orang Kejawen tidak nyaman tanpa keris — lalu orang kota kalau tidak membawa ATM juga tidak nyaman. Itu tidak dihukumi syirik? Kamu pergi lupa bawa HP, nyaman tidak? Kenapa tidak dihukumi syirik?”

Menurut Gus Baha, syirik itu ada di dalam hati — dan tidak ada yang bisa menghakimi isi hati orang lain hanya dari benda yang dibawanya. Syirik baru benar-benar terjadi ketika seseorang memindahkan sifat rububiyah atau uluhiyyah — hak mengatur nasib dan hak disembah — dari Allah kepada sebilah besi.

Keris sejati, seperti kata pepatah lama, memang bersemayam di dalam akal budi kita sendiri. Rawat pusakamu. Lebih penting lagi, rawat cara berpikirmu tentangnya.***


DAFTAR RUJUKAN

Sumber Primer — Teks Keagamaan & Kitab Klasik

  • Al-Bajuri, Ibrahim ibn Muhammad ibn Ahmad. (w. 1860 M). Tuhfatul Murid Syarh Jauharah At-Tauhid (hlm. 58). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.

Sumber Sekunder — Buku & Ensiklopedia

  • Harsrinuksmo, Bambang. (2008). Ensiklopedi Keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber Tersier — Media & Portal Daring Terverifikasi

  • BincangSyariah.com. (2020, 10 Agustus). Hukum meyakini kesaktian keris. https://bincangsyariah.com/kolom/hukum-meyakini-kesaktian-keris/
  • Detik Jatim. (2024, 5 Juli). Apa itu ritual jamasan pusaka? Ini prosesinya. https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7424883/apa-itu-ritual-jamasan-pusaka-ini-prosesinya
  • Islami.co. (2022, 15 Maret). Gus Baha: Orang, kok, mudah sekali menuduh syirik! https://islami.co/gus-baha-orang-kok-mudah-sekali-menuduh-syirik/
  • Iqra.id. (2023, 25 Juni). Gus Baha jelaskan anggapan tentang ‘orang Kejawen membawa keris itu syirik’. https://iqra.id/gus-baha-jelaskan-anggapan-tentang-orang-kejawen-membawa-keris-itu-syirik/
  • Kompas.com. (2022, 2 Desember). Prasasti Kayumwungan: Lokasi penemuan dan isinya. https://www.kompas.com/stori/read/2022/12/02/120000279/prasasti-kayumwungan–lokasi-penemuan-dan-isinya
  • Liputan6.com. (2024, 20 Juli). Penjelasan menohok Gus Baha bagi orang yang anggap bawa keris adalah syirik. https://www.liputan6.com/islami/read/5648058/penjelasan-menohok-gus-baha-bagi-orang-yang-anggap-bawa-keris-adalah-syirik
  • MariNews Mahkamah Agung RI. (t.t.). Refleksi keadilan dalam bilah Keris Sepang. https://marinews.mahkamahagung.go.id/serba-serbi/refleksi-keadilan-dalam-bilah-keris-sepang-0hB
  • NU Online. (2025, 3 November). Jamasan pusaka berdasarkan kitab kimia dan Hayatul Hayawan. https://www.nu.or.id/kesehatan/jamasan-pusaka-berdasarkan-kitab-kimia-dan-hayatul-hayawan-VF5Pq
  • Wikipedia bahasa Indonesia. (2026, 4 April). Prasasti Kayumwungan. https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Kayumwungan