Empat perempuan Palestina tewas di salon kecantikan saat serangan rudal Iran-Israel. Mereka adalah warga sipil yang selama ini hanya jadi pengamat perang.
KOSONGSATU.ID — Untuk pertama kalinya sejak perang Iran-Israel meletup pada 28 Februari 2026, warga sipil Palestina di Tepi Barat yang selama ini hanya menjadi pengamat, ikut menjadi korban.
Mengutip laporan APNews, Serangan rudal pada Rabu (18/3/2026) malam menewaskan empat perempuan di sebuah salon kecantikan dan melukai belasan lainnya.
Para korban adalah bagian dari keluarga besar Masalmeh di Beit Awa, dekat Hebron. Mereka adalah Sahera, Maes, Aseel, dan Amal yang sedang hamil enam bulan.
Anak perempuan Amal yang berusia tiga tahun yang ikut ibunya ke salon juga termasuk di antara lebih dari belasan anak-anak dan perempuan yang terluka.
Hadeel Masalmeh, pemilik salon yang juga terluka, kembali ke lokasi keesokan harinya dengan perban menutupi wajahnya. “Saya tidak seharusnya keluar dari rumah sakit, tapi saya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Sahera,” katanya tentang rekan bisnis sekaligus iparnya.
Serpihan rudal merobek dinding logam salon, menghancurkan rak-rak berisi cat kuku, dan meninggalkan genangan darah di lantai. Ratusan cangkir kopi dan kuku palsu berserakan di tengah lubang-lubang bekas serpihan.
Palestina Tanpa Perlindungan
Berbeda dengan warga Israel yang memiliki sistem peringatan dini dan tempat perlindungan, warga Palestina di Tepi Barat tidak memiliki fasilitas serupa. Saat sirine berbunyi dari permukiman Israel di dekatnya, tak banyak yang bereaksi hingga seorang pelanggan melihat suar merah di langit.
“Kami mendengar suara sirine, tapi tidak terlalu memperhatikan dan tidak menyangka serpihan atau apa pun akan jatuh menimpa kami,” ujar Hadeel.
Ketiadaan tempat perlindungan di Tepi Barat sangat kontras dengan Israel, di mana kode bangunan mewajibkan keberadaan ruang aman sejak Perang Teluk pertama. Bahkan di daerah tanpa tempat perlindungan rumah, fasilitas umum biasanya tersedia.
‘Jam Emas’ yang Hilang
Abedullraziq Almasalmeh, tetangga sekaligus kerabat korban, mendengar rudal melesat dan ledakan sekitar pukul 22.00. Perjalanan ambulans yang seharusnya kurang dari 10 menit memakan waktu 25 menit karena harus memutar akibat gerbang Israel di dekat Negohot ditutup.
Bulan Sabit Merah Palestina menyalahkan “penutupan paksa” itu yang menyebabkan keterlambatan signifikan. “Ini sangat berdampak pada ‘jam emas’ yang penting untuk tindakan penyelamatan jiwa,” demikian pernyataan mereka.
Manajer Departemen Manajemen Risiko Bencana Bulan Sabit Merah, Qusai Jabr, mengatakan jumlah gerbang meningkat dari sekitar 800 saat perang tahun lalu menjadi sekitar 1.100 saat ini, baik yang dijaga maupun tidak.
Di Antara Dua Api
Sifat serangan masih simpang siur. Militer Israel menyebutnya sebagai hantaman langsung rudal Iran dengan munisi tandan. Kementerian Dalam Negeri Otoritas Palestina menyebutnya sebagai serpihan rudal pencegat. Pemerintah Iran belum berkomentar.
Bagi warga Beit Awa yang telah lama menderita secara ekonomi akibat pencabutan izin kerja sejak perang Gaza 2023, insiden ini menjadi trauma baru. Kawasan perbukitan Hebron juga dikenal sebagai titik panas kekerasan pemukim.
“Kami berada di antara dua api,” kata Mahmoud Sweity, salah seorang pelayat.
Sejak awal 2026, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mencatat 18 warga Palestina tewas oleh tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat, termasuk seorang pemuda di Masafer Yatta kurang dari dua pekan lalu.***






Tinggalkan Balasan