Bulan Sabit Merah Palestina menyalahkan “penutupan paksa” itu yang menyebabkan keterlambatan signifikan. “Ini sangat berdampak pada ‘jam emas’ yang penting untuk tindakan penyelamatan jiwa,” demikian pernyataan mereka.
Manajer Departemen Manajemen Risiko Bencana Bulan Sabit Merah, Qusai Jabr, mengatakan jumlah gerbang meningkat dari sekitar 800 saat perang tahun lalu menjadi sekitar 1.100 saat ini, baik yang dijaga maupun tidak.
Di Antara Dua Api
Sifat serangan masih simpang siur. Militer Israel menyebutnya sebagai hantaman langsung rudal Iran dengan munisi tandan. Kementerian Dalam Negeri Otoritas Palestina menyebutnya sebagai serpihan rudal pencegat. Pemerintah Iran belum berkomentar.
Bagi warga Beit Awa yang telah lama menderita secara ekonomi akibat pencabutan izin kerja sejak perang Gaza 2023, insiden ini menjadi trauma baru. Kawasan perbukitan Hebron juga dikenal sebagai titik panas kekerasan pemukim.
“Kami berada di antara dua api,” kata Mahmoud Sweity, salah seorang pelayat.
Sejak awal 2026, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mencatat 18 warga Palestina tewas oleh tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat, termasuk seorang pemuda di Masafer Yatta kurang dari dua pekan lalu.***



Tinggalkan Balasan