Ndalem Pojok Kediri menggelar Tasyakuran untuk mengenang momen di mana Pancasila Menggema di PBB. Mengenang pidato Bung Karno 1960 yang menawarkan Pancasila pada dunia, sekaligus menobatkannya sebagai Pahlawan Asia Afrika.

KOSONGSATU.ID—Langit Kediri bersiap menjadi saksi. Selasa, 30 September 2025, Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno di Dusun Krapyak, Desa Pojok, Wates, akan menggelar Tasyakuran Pancasila Menggema di PBB dan penobatan Sukarno sebagai Pahlawan Asia Afrika.

Bagi pengelola situs, acara ini bukan sekadar ritual untuk mengenang. Ia adalah seremoni penuh makna: menghidupkan kembali gema Pancasila yang pernah Sukarno perdengarkan di podium PBB, 65 tahun silam.

“30 September adalah hari bahagia bagi seluruh rakyat Indonesia. Sayang kalau hanya diingat sebagai hari duka,” ujar Kushartono, Ketua Harian Situs Ndalem Pojok.

Kushartono menekankan, dengan tasyakuran ini, masyarakat diingatkan pada warisan Sukarno yang mengajukan Pancasila sebagai alternatif ideologi global.

“Bung Karno menawarkan lima pilar: kepercayaan kepada Tuhan, nasionalisme, internasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial. Sederhana, tapi mendalam,” katanya.

Pidato berjudul To Build the World Anew itu memang monumental. Di hadapan Majelis Umum PBB ke-15, 30 September 1960, Sukarno bukan hanya bicara untuk Indonesia. Ia bicara untuk Asia, Afrika, dan bangsa-bangsa tertindas.

“Bangsa Asia harus unjuk diri, bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang besar,” ucapnya, dikutip majalah Time.

Suara lantang Bung Karno yang menyebut Pancasila 23 kali dalam teks sepanjang 28 halaman kini diakui dunia. Pada Mei 2023, UNESCO memasukkannya sebagai bagian Memory of the World.

Bagi Ndalem Pojok, penobatan Sukarno sebagai Pahlawan Asia Afrika di sela acara tasyakuran adalah simbol penting. Sebab dari podium PBB hingga Konferensi Asia Afrika, Bung Karno menanamkan keyakinan bahwa jalan bangsa-bangsa tidak harus tunduk pada blok Barat atau Timur.

“Dengan jiwa Pancasila, dunia bisa damai dan sejahtera,” imbuh Kushartono.

Tasyakuran esok hari akan diisi doa bersama, pembacaan refleksi sejarah, hingga kirab budaya. Semua ditujukan untuk membangkitkan kesadaran, bahwa Pancasila bukan hanya milik Indonesia, melainkan anugerah yang layak ditawarkan ke dunia.***