Tantangan dunia kerja memicu rasa tidak aman dan lelah mental. Falsafah Sunda dan naskah kuno menawarkan pendekatan holistik untuk menjaga stabilitas batin pekerja.

KOSONGSATU.ID – Menghadapi tantangan dunia kerja modern yang serba cepat memicu lonjakan perasaan tidak aman (insecure) dan kelelahan mental (burnout) di kalangan pekerja. Ancaman psikologis ini kerap bermula saat pekerja menjadikan profesinya sebagai pelarian dari luka batin sekadar untuk mencari validasi.

​Paduan pendekatan kesehatan mental modern dan kearifan lokal Sunda kini menjadi solusi strategis untuk mengatasi persoalan tersebut. Falsafah tradisional terbukti menawarkan stabilitas batin bagi pekerja yang menghadapi tekanan rutinitas secara terus-menerus.

​Di tengah tekanan yang monoton, pekerja rentan kehilangan batasan yang sehat. Akibatnya, mereka kehilangan waktu untuk pemulihan diri karena beban kerja yang melampaui kapasitas.

​Fondasi Mental Holistik

​Perkara ini dapat diatasi melalui falsafah Cageur, Bageur, dan Bener. Konsep Cageur berarti sehat secara holistik, meliputi ketahanan fisik, mental, serta keseimbangan spiritual manusia.

​Stabilitas emosional tercapai bila individu mampu menerima keterbatasan diri secara utuh. Mental yang cageur membuat pekerja memiliki ketahanan atau resiliensi tinggi saat badai permasalahan menerjang.

​Sementara itu, nilai Bageur mencerminkan kebaikan moral dan etika sosial guna membangun relasi yang harmonis. Pekerja berkarakter ini terhindar dari keterasingan sosial karena senantiasa mengedepankan empati di tempat kerja.

​Hubungan interpersonal yang suportif ini menjadi penyangga emosional yang ampuh untuk mencegah kejenuhan atau burnout.

​Selain itu, prinsip Bener menuntut integritas dan motivasi kerja yang murni. Keselarasan pikiran dan perbuatan ini menjauhkan pekerja dari sifat manipulatif serta kedustaan di lingkungan kerja.

​Dukungan Sosial dan Jeda

​Mengatasi tekanan kerja juga membutuhkan sistem dukungan sosial yang kuat. Nilai Trisilas, yakni Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh, hadir sebagai penyangga emosional para pekerja.

​Lingkungan yang menerapkan Silih Asih menciptakan rasa aman melalui empati. Rekan kerja saling mencerdaskan tanpa menyalahkan, serta saling melindungi saat ada yang sedang terjatuh.

​Pekerja juga didorong berani mengambil waktu JEDA atau Jejak Energi dalam Aksi. Jeda reflektif ini penting untuk melihat kembali perjalanan hidup dan menimba kekuatan rohani.

​Sebelumnya, pedoman kesejahteraan batin ini telah diwariskan dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Teks abad ke-16 ini memandu manusia mengendalikan diri untuk mencapai batin yang santosa atau mantap.

​Naskah tersebut turut memperkenalkan Parigeuing, yakni seni berkomunikasi menggunakan bahasa yang menyejukkan. Hal ini mencegah konflik karena komunikasi dilakukan tanpa membuat rekan kerja tersinggung.

​Menyadari pekerjaan sebagai panggilan dan anugerah mengubah persepsi beban menjadi pengabdian. Melalui spiritualitas dan kepedulian sesama, pekerjaan tidak lagi melukai diri sendiri melainkan menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan.***

​Daftar Rujukan:

  • ​Danadibrata, R. A. (2006). Kamus Basa Sunda. Kiblat Buku Utama.
  • Ekadjati, E. S. (1995). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah. Pustaka Jaya.
  • Suryalaga, H. R. (2009). Kasundaan: Rawayan Jati. Yayasan Pendidikan Pasundan.
  • ​Sumardjo, J. (2003). Simbol-Simbol Artefak Budaya Sunda. Kelir.
  • Danasasmita, S., et al. (1987). Sewaka Darma, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Wirawan, S. (2013). Psikologi Lintas Budaya. Rajawali Pers.
  • Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the Burnout Experience: Recent Research and its Implications in Psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103-111.
  • Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. Free Press.