​Lingkungan yang menerapkan Silih Asih menciptakan rasa aman melalui empati. Rekan kerja saling mencerdaskan tanpa menyalahkan, serta saling melindungi saat ada yang sedang terjatuh.

​Pekerja juga didorong berani mengambil waktu JEDA atau Jejak Energi dalam Aksi. Jeda reflektif ini penting untuk melihat kembali perjalanan hidup dan menimba kekuatan rohani.

​Sebelumnya, pedoman kesejahteraan batin ini telah diwariskan dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Teks abad ke-16 ini memandu manusia mengendalikan diri untuk mencapai batin yang santosa atau mantap.

​Naskah tersebut turut memperkenalkan Parigeuing, yakni seni berkomunikasi menggunakan bahasa yang menyejukkan. Hal ini mencegah konflik karena komunikasi dilakukan tanpa membuat rekan kerja tersinggung.

​Menyadari pekerjaan sebagai panggilan dan anugerah mengubah persepsi beban menjadi pengabdian. Melalui spiritualitas dan kepedulian sesama, pekerjaan tidak lagi melukai diri sendiri melainkan menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan.***

​Daftar Rujukan:

  • ​Danadibrata, R. A. (2006). Kamus Basa Sunda. Kiblat Buku Utama.
  • Ekadjati, E. S. (1995). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah. Pustaka Jaya.
  • Suryalaga, H. R. (2009). Kasundaan: Rawayan Jati. Yayasan Pendidikan Pasundan.
  • ​Sumardjo, J. (2003). Simbol-Simbol Artefak Budaya Sunda. Kelir.
  • Danasasmita, S., et al. (1987). Sewaka Darma, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Wirawan, S. (2013). Psikologi Lintas Budaya. Rajawali Pers.
  • Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the Burnout Experience: Recent Research and its Implications in Psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103-111.
  • Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. Free Press.