Mitos Ratu Kidul dan Lembo Talu bukan sekadar cerita gaib. Di dalamnya tersimpan ingatan tsunami, oseanografi, dan peringatan bencana yang sering kita abaikan.


KOSONGSATU.ID — Kita terlalu cepat menertawakan mitos. Padahal, di pesisir Nusantara, cerita gaib kadang bekerja sebagai arsip bencana yang menyimpan ingatan tentang gempa, tsunami, angin besar, dan laut yang tiba-tiba berubah ganas.

Ilmu untuk membacanya disebut geomitologi. Ia tidak memperlakukan mitos sebagai bukti tunggal, melainkan petunjuk awal untuk diuji dengan geologi, sejarah, oseanografi, dan jejak lapangan.

Ratu Kidul Bukan Sekadar Horor

Peneliti paleotsunami Eko Yulianto pernah menelusuri kemungkinan hubungan legenda Ratu Kidul dengan tsunami purba selatan Jawa. Dalam paparan LIPI, ia membandingkan kisah Babad Tanah Jawa dengan rekaman geologi.

Teks itu menggambarkan suara mengerikan: air samudra memanas, makhluk laut mati, dan istana laut kidul geger akibat laku Panembahan Senopati. Bagi pembaca modern, itu terdengar mistis. Bagi paleotsunami, itu bisa menjadi kode bencana.

Eko tidak berhenti pada cerita. Ia membandingkannya dengan endapan paleotsunami, teras laut, dan data usia kejadian. Di sinilah mitos berubah fungsi: bukan klenik yang harus dipercaya mentah-mentah, melainkan sinyal budaya yang layak diuji.

Lembo Talu Mengajarkan Ingatan Bencana

Jejak serupa muncul di Sulawesi Barat. Masyarakat Majene mengenal gempa sebagai linor dan tsunami sebagai Lembong Tallu, gelombang tiga. Istilah lokal ini merekam cara masyarakat pesisir mengenali tanda alam.

Pada 23 Februari 1969, gempa dan tsunami menghantam Majene. Kajian Universitas Negeri Malang mencatat gelombang setinggi 1 hingga 6 meter merusak permukiman dan membuat 60.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Yang penting bukan hanya kerusakannya. Setelah bencana, terjadi perubahan pola permukiman dan mata pencaharian. Artinya, masyarakat tidak sekadar mengingat bencana sebagai trauma, tetapi mengolahnya menjadi strategi hidup.

Ombak Ganas Juga Membaca Musim Ikan