Sekitar lima bulan sebelum proklamasi, Soekarno mengutus utusannya untuk sowan kepada Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng. Ia menanyakan hasil istikharah para kiai mengenai waktu terbaik untuk mengumumkan kemerdekaan. Mbah Hasyim memberikan jawaban tegas: proklamasi harus berlangsung pada hari Jumat Legi di bulan Ramadhan.
Jumat adalah Sayyidul Ayyam (penghulu hari), sementara Ramadhan adalah Sayyidus Syuhur (penghulu bulan). Kolaborasi dua waktu mulia ini jatuh tepat pada 9 Ramadhan 1364 Hijriah, yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945.
Soekarno kemudian membawa petunjuk ini kepada R.M.P. Sosrokartono, kakak RA Kartini yang memilih jalan hidup sufi di Bandung dan akrab dengan julukan “Sang Alif”. Sosrokartono mengonfirmasi rahasia momentum tersebut. Ia memaparkan bahwa Jumat memancarkan wibawa penghulu hari, sedangkan pasaran Legi memancarkan pendar sinar putih dan kemerahan. Ulama-ulama ini sepakat bahwa jika momentum Jumat Legi itu terlewatkan, bangsa Indonesia harus menunggu tiga abad lagi untuk merdeka.
Mengakar pada Nalar Primordial: Papat Kalimo Pancer
Pemilihan tanggal proklamasi juga beresonansi kuat dengan nalar primordial masyarakat Indonesia, khususnya filosofi Jawa Papat Kiblat Kalimo Pancer. Konsep ini memandang alam semesta terbagi dalam empat elemen penjuru dengan satu titik pusat yang menyeimbangkan segalanya.
Hitungan kelipatan dari struktur Papat Kalimo Pancer (4+1=5) akan melahirkan angka 9 (8+1) dan kemudian angka 17 (16+1). Angka-angka inilah yang menjelma menjadi fondasi kultural dan spiritual bangsa. Angka 5 mewujud dalam Pancasila, angka 9 merepresentasikan Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara, dan angka 17 merangkum seluruh kesatuan tersebut dalam hari kemerdekaan.
”Atas Berkat Rochmat Allah Yang Maha Kuasa” dan Tradisi Sujud Syukur 9-10 Ramadan
Tarikan napas spiritual dari peristiwa 17 Agustus 1945 ini terus mendapat tempat terhormat, dijaga, dan digaungkan oleh para ulama penerus. Salah satunya adalah KH. Muhammad Muchtar Mu’thi, Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah asal Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman, Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang. Kiai Tar menempatkan proklamasi kemerdekaan pada maqam spiritual yang teramat agung.



Tinggalkan Balasan