Kiai Tar selalu menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia murni merupakan pengejawantahan dari kalimat “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Baginya, kemerdekaan bangsa ini bukanlah sekadar hadiah dari Jepang atau semata-mata hasil perjuangan fisik berdarah, melainkan anugerah rahmat terbesar dari langit yang Allah turunkan bertepatan dengan kemuliaan bulan suci Ramadan.
Merespons besarnya karunia tersebut, Kiai Tar merawat ingatan sejarah ini melalui tindakan nyata yang melembaga. Ia menginisiasi sebuah tradisi monumental di lingkungan Tarekat Shiddiqiyyah, yakni ritual Sujud Syukur Kemerdekaan setiap tanggal 9 dan 10 Ramadan.
Tanggal 9 Ramadan oleh Kiai Tar ditetapkan sebagai momentum mensyukuri hari lahirnya kemerdekaan Bangsa Indonesia (Proklamasi). Sementara itu, keesokan harinya pada tanggal 10 Ramadhan, jamaah merayakan hari lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai syukur atas pengesahan UUD 1945, Pancasila, dan pengangkatan Presiden serta Wakil Presiden oleh PPKI. Melalui tradisi sujud syukur ini, jutaan warga Shiddiqiyyah di seluruh pelosok negeri secara serentak menempelkan dahi ke bumi, merapal syukur mendalam atas nikmat kebebasan yang diraih melalui darah, air mata, dan doa para ulama.
Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 terbukti bukan sekadar produk kepanikan politik akibat kekalahan Jepang. Peristiwa itu merupakan puncak dari persiapan panjang, laku spiritual para ulama yang gemar berpuasa dan bermunajat, serta pembacaan tanda-tanda alam yang jeli oleh Soekarno. Ketika naskah proklamasi akhirnya bergema di Pegangsaan Timur, bangsa Indonesia sedang menengadahkan tangan dalam keadaan lapar dan dahaga puasa, mengaminkan sebuah kebebasan yang direstui oleh bumi dan dilangitkan oleh doa.***
Daftar Pustaka
- Adams, Cindy. (1966). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
- Anam, Choirul. (2010). Pertumbuhan dan Perkembangan NU.
- Irawan MN, Aguk. (2012). Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari.
- Noer, Deliar. (1973). Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942.
- Panitia Peringatan Kasman Singodimedjo. (1979). Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun.
- Pitono, R. (1969). Warna Sari Sedjarah Indonesia Lama II.
- Roem, Mohamad. (1977). Bunga Rampai dari Sejarah Jilid II.
- Sirojudin Abas, Rudi. (2019). Religiusitas Masyarakat Cinunuk Garut dalam Struktur Ritual Mulud. (Tesis Pascasarjana ISBI Bandung).
- Simuh. (1986). (Penelitian tentang Kosmologi Budaya Hindu-Jawa dan Konsep Wali Songo).
- Sumantri, Haryo dan Setiawan, Edi. (2022). Jati Diri Bangsa: Kyai Muchtar Mu’thi sang Mujahid Wawasan Kebangsaan. Jakarta: Orshid.



Tinggalkan Balasan