Kritik keras sang Kiai terhadap kebijakan sahabatnya itu harus dibayar mahal. Haji Abdul Mu’thi, yang dulunya adalah guru spiritual yang didengar, terpaksa menjadi “buronan politik” rezim Orde Lama. Ia harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari penangkapan. Sebuah ironi yang menyedihkan: seorang tokoh yang turut membidani kelahiran republik harus bersembunyi dari pemimpin negara yang dulu ia bimbing secara spiritual.
Akhir Hayat Sang Pejuang
Setelah melewati masa-masa turbulensi politik dan mendedikasikan hidupnya untuk umat, Haji Abdul Mu’thi wafat pada hari Senin, 20 September 1976, di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta, pada usia 78 tahun.
Meski sempat tersisih dari panggung kekuasaan, warisannya tetap hidup. Ia dikenang bukan karena jabatannya, melainkan karena keberaniannya. Ia adalah bukti bahwa ulama sejati tidak silau oleh cahaya istana dan tetap setia pada kebenaran walau harus berdiri sendirian.
Mengenang Kiai Abdul Mu’thi Madiun adalah mengenang keberanian moral. Kisahnya mengajarkan kita bahwa loyalitas tertinggi seorang ulama bukanlah kepada penguasa atau sahabat karib, melainkan kepada nilai-nilai kebenaran yang diyakininya.***
Sumber:
-
Mu’arif. (2020). Jejak Persyarikatan: Abdul Mu’thi, Konsul Muhammadiyah Madiun. Suara Muhammadiyah.
-
Arsip Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur. Wawancara Sejarah Lisan Tokoh Muhammadiyah Madiun.
-
Ensiklopedia Tokoh Muhammadiyah.



0 Komentar