Soekarno dan KH Wahab Chasbullah bukan sekadar Presiden dan Ulama. Keduanya bersahabat erat, pernah adu kesaktian batin, hingga bahu-membahu meramu taktik negara dari balik layar.
KOSONGSATU.ID – Sejarah sering kali mempertemukan tokoh-tokoh besar di satu titik mula. Bung Karno dan KH Wahab Chasbullah alias Mbah Wahab mengalami takdir tersebut.
Meski lahir dari rahim budaya yang berbeda—Soekarno kental dengan darah priyayi dan keturunan Raja Buleleng, sementara Mbah Wahab tumbuh sebagai santri tulen berdarah biru keturunan Brawijaya V—keduanya menimba ilmu pada sumur pergerakan yang sama.
Di Surabaya, HOS Tjokroaminoto, sang “Raja Jawa Tanpa Mahkota”, menggembleng mereka. Bung Karno menyerap ilmu pidato dan politik radikal, sedangkan Mbah Wahab meramu semangat nasionalisme itu melalui jalur pendidikan keagamaan.
Keduanya mengambil jalan memutar yang berbeda, namun kelak bertemu kembali di puncak kepemimpinan Republik.
Adu Batin di Ruang Negara
Persahabatan mereka tidak hanya terbangun lewat diskusi politik yang rasional, tetapi juga menembus batas spiritual. Sebuah insiden unik terekam dalam sejarah saat keduanya mempersiapkan sebuah rapat negara yang genting.
Bung Karno yang baru tiba, menghampiri Mbah Wahab. Ia menepuk bahu sang kiai seraya berkata, “Ikut pendapatku.”
Ajaibnya, tepukan itu mengunci tubuh Mbah Wahab. Selama sepuluh menit, sang pendiri Nahdlatul Ulama itu kaku layaknya patung dan tak mampu bersuara. Suasana ruang rapat mendadak tegang.
Setelah berhasil melepaskan diri dari kondisi tersebut, Mbah Wahab bangkit. Ia berjalan tenang mendekati kursi Soekarno, menepuk pundak sang Presiden dengan cara serupa, dan berbisik, “Aku punya pendapat sendiri.”
Sesaat setelah kalimat itu terucap, giliran tubuh Soekarno yang terkunci kaku selama 30 menit. Peristiwa ini membuktikan bahwa keduanya memegang wibawa dan kekuatan batin yang berimbang, saling menguji namun saling menghormati.
Lahirnya Tradisi Halal bi Halal
Kedekatan emosional ini membuat Soekarno kerap menjadikan Mbah Wahab sebagai tempat berpulang saat negara sedang kacau. Pada pertengahan Ramadan tahun 1948, elit politik Indonesia saling serang dan berseteru. Soekarno kebingungan mencari cara untuk menyatukan mereka kembali.
Ia pun memanggil Mbah Wahab ke istana.
Soekarno meminta saran untuk merancang sebuah forum silaturahmi, namun ia enggan menggunakan kata “silaturahmi” karena terkesan biasa. Mbah Wahab kemudian membedah akar masalahnya.
Para politisi itu saling menyalahkan, dan saling menyalahkan adalah dosa alias haram.
“Supaya mereka tidak punya dosa, maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan,” usul Mbah Wahab. Dari percakapan ringan namun sarat makna inilah, istilah “Halal bi Halal” lahir dan meresap menjadi tradisi khas masyarakat Indonesia setiap usai Idulfitri hingga detik ini.
Taktik Ghosob Pembebasan Irian Barat
Tak hanya soal rekonsiliasi elit, Soekarno juga bersandar pada fatwa Mbah Wahab untuk urusan kedaulatan wilayah. Saat lobi diplomasi pembebasan Irian Barat selalu kandas, Soekarno bertanya mengenai status hukum orang-orang Belanda yang masih menduduki wilayah tersebut.
Dengan merujuk pada kitab Fathul Qorib, Mbah Wahab secara tegas menyamakan tindakan Belanda dengan ghosob (menguasai hak milik orang lain tanpa izin). Ketika Soekarno bertanya apakah jalur damai masih memungkinkan, sang kiai menjawab mantap: “Ambil, kuasai dengan paksa!”
Mbah Wahab lantas menyarankan diplomasi Cancut Tali Wondo—sebuah taktik yang menuntut perbaikan ekonomi, kebebasan politik di dalam negeri, sekaligus memperkuat militer untuk menekan lawan.
Berbekal restu dan strategi inilah, Soekarno memerintahkan Jenderal Nasution memborong senjata tempur dari Uni Soviet dan sukses melancarkan operasi Trikora.
Nasionalisme Berbalut Bismillah
Kiprah Bung Karno dan Mbah Wahab mengajarkan kita bahwa politik dan spiritualitas bisa berjalan beriringan untuk menyelamatkan bangsa.
Mbah Wahab rela pasang badan mendukung kebijakan kontroversial Soekarno demi mencegah kelompok radikal lain mengambil alih haluan negara.
Ia menanamkan pemahaman bahwa membela negara bukanlah sekadar urusan duniawi, melainkan panggilan iman.
Sebagaimana jawaban lugas Mbah Wahab ketika Soekarno bertanya apakah nasionalisme itu ajaran Islam:
“Nasionalisme ditambah bismillah, itulah Islam. Kalau Islam dilaksanakan dengan benar, pasti umat Islam akan nasionalis.”
Dua tokoh ini telah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia berdiri tegak berkat jalinan rasionalitas seorang pemimpin formal dan kedalaman batin seorang pemimpin informal.***
Daftar Pustaka:
- Al-Jurjani, Ali bin Muhammad bin Ali. (1984). Kitab at-Ta’rifat.
- DZ, Abdul Mun’im. KH Abd Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
- Geertz, Clifford. (1960). The Religion of Java.
- Nadjib, Emha Ainun (Cak Nun). (2019). Islam itu Rahmatan Lil Alamin Bukan Untuk Kamu Sendiri. Noura Books.
- Stoddard, Lothorp. (1966). The New World of Islam.
- Tim Penulis. (2018). Tambak Beras Menelisik Sejarah Memetik Uswah.
- Wahid, Abdurrahman (Gus Dur). (2007). Kumpulan Tulisan.
- Zuhri, KH Saifuddin. (2013). Berangkat dari Pesantren.






0 Komentar