Jakarta dilanda banjir besar hari ini (20/2). Wilayah Jaksel terendam hingga 1,2 meter dengan 69 RT terdampak akibat hujan ekstrem serta penurunan muka tanah yang berkontribusi hingga 145 persen.


KOSONGSATU.ID – Ibu kota kembali menghadapi ujian berat di puncak musim penghujan 2026. Hujan ekstrem yang mengguyur sejak Kamis malam (19/2) hingga Jumat pagi (20/2) menyebabkan puluhan titik di DKI Jakarta terendam banjir. Data terbaru menunjukkan wilayah Jakarta Selatan menjadi area terdampak paling signifikan dengan ketinggian air mencapai lebih dari satu meter.

Berdasarkan data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta hingga pukul 08.30 WIB, jumlah area terdampak terus meningkat. Jika pada pukul 07.00 WIB tercatat 61 RT, angka tersebut melonjak menjadi 69 RT dalam kurun waktu kurang dari dua jam.

Wilayah Jakarta Selatan mencatatkan titik genangan terdalam. Di Kelurahan Cilandak Timur dan Cipete Utara, ketinggian air dilaporkan menyentuh angka 110 sentimeter hingga 120 sentimeter. Sementara itu, Kelurahan Petogogan menjadi wilayah dengan sebaran terdampak terluas, mencakup 39 RT.

“Kami telah mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di lapangan. Koordinasi dengan Dinas SDA, Bina Marga, dan Gulkarmat terus dilakukan untuk percepatan penyedotan air menggunakan pompa stasioner maupun mobile,” ujar Mohamad Yohan, Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/2).

Lumpuhnya Akses Transportasi

Selain permukiman, banjir juga melumpuhkan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga. Sebanyak enam ruas jalan utama dilaporkan tergenang, di antaranya:

  • Jalan Gaya Motor Raya (Jakarta Utara)
  • Akses sekitar Mangga Dua Square (Jakarta Pusat)

Dengan ketinggian air rata-rata 40–60 sentimeter, kendaraan roda dua maupun roda empat diimbau untuk mencari jalur alternatif guna menghindari kemacetan panjang.

Analisis Pakar: Tekanan Multidimensi

Banjir kali ini bukan sekadar masalah curah hujan. Yus Budiono, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi BRIN, dalam analisis terbarunya mengungkapkan bahwa Jakarta sedang menghadapi tekanan multidimensi.