Iran Konfirmasi Ali Larijani Gugur, Serangan Melebar hingga Baghdad


KOSONGSATU.ID—Iran mengonfirmasi Ali Larijani gugur dalam serangan terbaru saat konflik meluas ke Irak.

Iran mengonfirmasi gugurnya dua pejabat tinggi keamanan negara itu dalam serangan yang terjadi Selasa malam (17/3/2026).

Media pemerintah Iran, seperti dikutip Al Jazeera, melaporkan Kepala Keamanan Iran Ali Larijani dan Komandan Pasukan Basij Gholamreza Soleimani gugur dalam serangan yang sebelumnya diklaim oleh Menteri Pertahanan Israel.

Ali Larijani disebut sebagai pejabat tertinggi Iran yang tewas sejak Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan pertama pada 28 Februari 2026.

Sementara Gholamreza Soleimani dikenal sebagai komandan milisi Basij. Pasukan paruh waktu ini berada di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan kerap digunakan untuk mengendalikan protes di dalam negeri.

Konflik Merembet ke Irak

Konfirmasi Teheran muncul saat eskalasi konflik mulai menjalar ke wilayah Irak.

Laporan keamanan menyebut sejumlah drone terbang di atas Zona Hijau Baghdad, kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Irak sekaligus lokasi kediaman para diplomat asing.

Ledakan juga terdengar di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat di ibu kota Irak tersebut.

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Israel terkait insiden di Baghdad.

Namun perkembangan ini memperlihatkan medan konflik tidak lagi terbatas pada front Iran–Israel.

Irak kini ikut terseret. Wilayah tersebut selama ini menjadi lokasi sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat dan kelompok milisi yang memiliki kedekatan dengan Iran.

Dampak Perang

Sementara itu, dampak perang terus meluas ke sektor kemanusiaan dan ekonomi global.

Kementerian Kesehatan Iran sebelumnya melaporkan sedikitnya 240 anak tewas dan lebih dari 18.000 orang terluka sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026.

Selat Hormuz juga masih tertutup.

Jalur laut vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu belum kembali beroperasi.

Sejumlah sekutu Amerika Serikat kembali menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk bergabung dalam misi militer membuka jalur tersebut.

Akibatnya, harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas USD100 per barel, memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global.***