AS kewalahan hadapi Iran di Timur Tengah hingga terpaksa tarik sistem rudal THAAD dari Korsel. Media sebut Iran menang sejauh ini.


KOSONGSATU. ID – ​Media asal Amerika Serikat (AS), Newsweek, menyoroti perkembangan terbaru konflik mematikan di Timur Tengah. Laman tersebut menyebutkan bahwa Iran sejauh ini tampak lebih unggul dalam perang melawan Washington dan Israel. Indikator utamanya terlihat dari langkah strategis militer AS yang secara darurat memindahkan aset pentingnya dari kawasan Asia.

​Amerika Serikat Kewalahan Tarik THAAD dan Patriot

​AS tampaknya mulai kewalahan menghadapi tekanan serangan beruntun selama 11 hari di seluruh wilayah Timur Tengah. Untuk menambal lubang pertahanan, Washington terpaksa memindahkan sebagian sistem pertahanan udara anti-rudal balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan (Korsel) ke Timur Tengah.

​Tidak hanya itu, Pentagon juga menarik rudal pencegat untuk sistem Patriot buatan AS dari wilayah Indo-Pasifik lainnya. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa persediaan senjata AS mulai menipis akibat tingginya intensitas serangan yang menyasar pasukan mereka beserta sekutunya, meski para pejabat Washington sempat meremehkan kekhawatiran tersebut.

​Kerusakan Fasilitas Militer AS di Yordania

​Perang besar ini meletus pada 28 Februari lalu usai serangan gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran merespons tegas dengan membombardir Tel Aviv dan Yerusalem, menargetkan pangkalan militer AS di negara-negara Arab, menutup Selat Hormuz, dan menggempur sejumlah fasilitas energi kawasan.

​Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memang menyatakan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan terkuat sejauh ini. Namun, gempuran balasan Iran sukses memberikan tekanan berat. Militer Iran bahkan mengklaim berhasil menghancurkan setidaknya empat radar THAAD di berbagai pangkalan Timur Tengah, termasuk Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

​Kondisi ini memaksa AS bekerja keras mencari pengganti radar THAAD yang rusak. Serangan drone dan rudal Iran yang masif jelas menguras stok rudal pencegat AS yang harganya sangat mahal.

​Sekutu Kecewa Pertahanan Menipis

​Pemindahan aset militer secara mendadak ini menuai reaksi keras dari sekutu AS di Asia. Presiden Korsel, Lee Jae Myung, menyatakan penolakannya terhadap penarikan sistem pertahanan udara tersebut. Seoul sangat khawatir manuver ini akan memicu keberanian Korea Utara (Korut) pimpinan Kim Jong Un untuk bertindak lebih agresif di semenanjung yang terbagi tersebut.