
Ancaman Bencana: Siklus Berulang
Para pakar memperingatkan bahwa risiko bencana tidak lagi eksklusif di Sumatera. Kalimantan, Papua, dan Sulawesi memiliki topografi terjal dan curah hujan tinggi yang membuatnya rentan mengalami banjir bandang serupa.
Kerusakan di hulu DAS memicu peningkatan air larian, sehingga banjir mendadak semakin parah. Emisi karbon ikut melonjak, sementara pulau kecil mengalami krisis air akibat hilangnya fungsi resapan.
Rekomendasi mitigasi disampaikan berkali-kali: hentikan izin baru di hulu DAS rawan, audit seluruh izin lama, lakukan reforestasi berbasis DAS, tegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan evaluasi kebijakan biomassa yang dinilai mempercepat deforestasi.
Namun para peneliti menilai pelaksanaan rekomendasi itu masih jauh dari memadai.
Peringatan dari Sumatera
Seluruh data dan pernyataan resmi tersebut mengarah pada satu kesimpulan: Sumatera bukan insiden tunggal, melainkan peringatan. Kombinasi deforestasi, cuaca ekstrem, lemahnya pengawasan korporasi, dan pembangunan yang abai ekologi membuat banjir bandang 2025 hanya satu dari rangkaian bencana yang berpotensi berulang dalam skala lebih besar.
Jika kerusakan di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi terus berlanjut, para ahli menilai Indonesia memasuki fase ancaman ekologis yang lebih luas.***



Tinggalkan Balasan