Banjir bandang Sumatera memicu peringatan baru soal deforestasi di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi.

KOSONGSATU.ID — Ledakan banjir bandang dan longsor yang menewaskan 744 orang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 menjadi alarm keras rapuhnya sistem ekologis Indonesia.

Para peneliti dan organisasi lingkungan memperingatkan bahwa pola kerusakan yang sama—bahkan lebih besar—sedang berlangsung di Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku, NTT, dan NTB. Mereka menilai Indonesia memasuki era “siklus bencana ekologis berulang” setiap kali cuaca ekstrem melanda.

Banjir bandang Sumatera menjadi contoh paling gamblang. Hutan yang rontok di hulu DAS membuat benteng alam runtuh ketika hujan ekstrem mengguyur kawasan itu. Data BNPB mencatat lebih dari 1,1 juta warga mengungsi, sementara jembatan dan desa terisolasi hingga awal Desember.

Pusat Deforestasi: Kalimantan, Papua, dan Sulawesi

Auriga Nusantara dan Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat deforestasi nasional mencapai 257.384 hektare pada 2023, naik dari 230.760 hektare pada 2022. Kalimantan menjadi penyumbang terbesar, disusul Sumatera dan Sulawesi, sementara Papua mengalami degradasi luas meskipun masih memiliki tutupan hutan terbesar nasional.

Di Sumatera, total kehilangan hutan mencapai 4,4 juta hektare sejak 2001. WALHI mencatat 1,4 juta hektare hilang sepanjang 2016–2025 di kawasan Aceh, Sumut, dan Sumbar akibat 631 perusahaan tambang, sawit, PBPH, PLTA, dan geotermal. Banjir bandang 2025 menjadi hasil nyata kerusakan tersebut.

Di Kalimantan, angka deforestasi 2023 tercatat di seluruh provinsi: Kalbar 35.162 ha, Kalteng 30.433 ha, Kaltim 28.633 ha, Kalsel 16.067 ha, dan Kaltara 14.316 ha. FWI menyoroti kehadiran Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk biomassa PLTU sebagai “ancaman terbesar terhadap hutan alam tersisa.”

Tangkapan layar foto lahan yang dipersiapkan menjadi kebun sawit di Kalimantan. Foto udara Greenpeace ini memperlihatkan bukit-bukit yang sudah dikupas untuk perkebunan sawit.

Papua, dengan 33,12 juta hektare hutan, menunjukkan deforestasi 256.065 ha dan degradasi 965.955 ha periode 1990–2022. Konsesi HPH, sawit, dan tambang menjadi tekanan utama.

Sulawesi juga berada di jalur kerusakan berat. Sulawesi Tengah mencatat deforestasi 16.679 hektare pada 2023, sementara Sulawesi Tenggara kehilangan 38 ribu hektare tutupan pohon sepanjang 2021–2024. Sebanyak 97 persen di antaranya adalah hutan alam akibat ekspansi nikel dan perkebunan.

Pulau-pulau kecil di Maluku, NTT, dan NTB merasakan dampak langsung berupa krisis air, erosi, dan longsor akibat tutupan hutan yang terus menyusut.

Para Pakar Bersiapkan Alarm

Peneliti Hidrologi Hutan UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, menegaskan banjir bandang Sumatera merupakan bukti nyata keterkaitan deforestasi dan bencana.

“Cuaca ekstrem hanya pemicu awal. Kerusakan hutan di hulu DAS-lah yang memperparah daya rusak banjir bandang,” ujarnya dalam rilis UGM, Rabu (3/12/2025).

Menurutnya, studi nasional 2019 menunjukkan 47 persen deforestasi Indonesia terjadi di Sumatera dan 40 persen di Kalimantan, dengan sawit sebagai pendorong utama.

Direktur WALHI Aceh, Ahmad Solihin, menilai kerusakan tersebut sebagai akibat kelalaian kebijakan pemerintah.

“Ini bencana ekologis yang diproduksi kebijakan pemerintah yang abai, permisif, dan memfasilitasi penghancuran ruang hidup,” katanya, Selasa (2/12/2025).