​Hujan lebat melanda Iran usai konflik dengan AS dan Israel. Apakah ini bukti hancurnya senjata cuaca atau sekadar fenomena alam?


KOSONGSATU. ID – ​Kawasan Teluk Persia menunjukkan perubahan cuaca yang sangat drastis pada periode Maret hingga April 2026. Iran, yang selama bertahun-tahun berjuang melawan kekeringan ekstrem, tiba-tiba menghadapi guyuran hujan lebat, badai salju, hingga penurunan suhu hingga 5 derajat Celcius.

Kini, bendungan yang tadinya mengering mulai terisi penuh, dan hamparan vegetasi hijau mulai menyelimuti daratan tandus.

​Fenomena ini memicu perdebatan panas di jagat maya. Banyak warganet mengaitkan turunnya hujan ekstrem ini dengan serangan militer Iran ke pangkalan Amerika Serikat dan Israel. Muncul narasi kuat bahwa rudal Iran berhasil menghancurkan fasilitas “senjata cuaca” rahasia milik musuh. Mereka meyakini Iran kini terbebas dari operasi “pencurian awan” yang selama ini dituduhkan. Namun, apakah kacamata sains mendukung teori tersebut?

​Membedah Teori Konspirasi “Climatic Strike”

​Pendukung teori konspirasi kerap menyitir dokumen militer AS tahun 1996 berjudul “Weather as a Force Multiplier: Owning the Weather in 2025”. Dokumen tersebut memang membahas potensi cuaca sebagai alat tempur masa depan.

Selain itu, muncul sosok “Dr. Fatma Saad Al-Hassani” di media sosial yang mengeklaim sebagai akademisi University of Oregon. Ia menyebarkan narasi bahwa teknologi HAARP dan radar THAAD mampu memanipulasi cuaca regional dari jarak jauh.

​Namun, tim ahli segera mematahkan klaim tersebut. Penelusuran menunjukkan bahwa University of Oregon tidak memiliki catatan akademisi bernama Fatma Saad Al-Hassani di bidang klimatologi.

Di sisi lain, dokumen militer tahun 1996 tersebut hanyalah studi spekulatif fiktif, bukan cetak biru operasional. Fasilitas HAARP di Alaska sendiri saat ini dikelola oleh universitas untuk riset ilmiah terbuka, bukan untuk mengubah pola hujan di negara lain secara presisi.

​Fakta Teknologi Modifikasi Cuaca Saat Ini

​Dunia memang mengenal teknologi modifikasi cuaca secara aktif. Tiongkok memiliki program penyemaian awan (cloud seeding) terbesar di dunia untuk mendukung sektor pertanian. Begitu pula dengan Uni Emirat Arab yang rutin menyemai awan di wilayah gurun mereka.