Bukan sekadar festival rakyat, Grebeg Suro menyimpan rekayasa kalender abad ke-17 yang mengubah cara orang Jawa memahami waktu, identitas, dan Tuhan.


KOSONGSATU.ID — Setiap tahun, ribuan orang memadati Alun-alun Ponorogo untuk menyaksikan singa berkepala merak menari di bawah rembulan bulan Suro. Sebagian menyebutnya takhayul. Sebagian lagi sekadar menikmatinya sebagai tontonan. Padahal, di balik kemeriahan itu tersimpan salah satu rekayasa sistem kalender paling ambisius dalam sejarah Nusantara.

Satu Keputusan, Dua Sistem Waktu

Pada 8 Juli 1633, Sultan Agung Hanyokrokusumo mengeluarkan dekrit yang mengubah cara orang Jawa menghitung hari. Ia menggabungkan kalender Saka warisan Hindu-Buddha dengan sistem lunar kalender Hijriah Islam, menghasilkan penanggalan Jawa yang baru. 

Nama-nama bulan diadopsi dari Hijriah dan dijawaankan; bulan Muharram menjadi “Suro”, dari kata Arab ʿāshūrāʾ yang berarti “kesepuluh”—merujuk pada hari ke-10 Muharram yang dianggap suci dalam Islam.

Keputusan ini bukan sekadar administratif. Sultan Agung menghadapi masalah nyata: rakyatnya hidup di bawah dua sistem waktu berbeda—kalender Saka di pedalaman, kalender Hijriah di pesisir utara yang lebih awal berislam. Kalender baru itu adalah instrumen persatuan, bukan hanya spiritualitas.

Grebeg yang Lahir dari Tirakatan Warok

Grebeg Suro yang kita kenal sekarang bukan tradisi berusia ratusan tahun dalam bentuknya yang sekarang. Festival ini baru lahir pada 1987, ketika Bupati Soebarkah Poetro Hadiwirjo melihat kebiasaan kaum warok—tokoh berpengaruh dalam budaya Ponorogo—yang setiap malam 1 Suro bertirakatan, mengelilingi kota hingga Alun-alun. Ia mengubah laku spiritual itu menjadi pesta rakyat, sekaligus menyuntikkan kesenian Reog yang saat itu mulai ditinggalkan generasi muda.

Kini rangkaian Grebeg Suro mencakup Festival Nasional Reog Ponorogo, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, serta Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel. Sebuah festival yang awalnya darurat pelestarian, kini masuk kalender wisata nasional.

Reog, Keris, dan Pengakuan Dunia

Pilihan menempatkan Reog Ponorogo sebagai inti festival terbukti tepat. Pada 3 Desember 2024, UNESCO menetapkan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding—pengakuan ke-14 dari Indonesia. Artinya, dunia menilai seni ini cukup berharga untuk diselamatkan, sekaligus cukup rentan untuk dikhawatirkan.

Keris yang diarak dalam Kirab Pusaka pun bukan sembarang properti. Sejak 2005, UNESCO telah mengakui keris sebagai Warisan Budaya Takbenda, menempatkannya sejajar dengan batik dan wayang sebagai ekspresi identitas Nusantara yang tak tergantikan.

Tapa Bisu: Meditasi dalam Budaya Jawa

Di luar kemeriahan festival, inti spiritual Grebeg Suro justru bertumpu pada keheningan. Ritual tapa bisu—berjalan tanpa berkata-kata, tanpa makan, tanpa gaduh—adalah bentuk latihan pengendalian diri yang dalam kajian etnosains UNESA dianalogikan dengan praktik meditasi dan detoks batin dalam konteks modern. Diam bukan kepasifan; dalam kosmologi Jawa, diam adalah bentuk aktif dari introspeksi dan penghormatan terhadap waktu.

Tradisi pantang hajatan besar di bulan Suro pun bukan fobia tanpa nalar. Ia adalah mekanisme sosial untuk menjaga ruang kontemplasi kolektif di tengah siklus tahunan kehidupan.

Tradisi yang Memilih Bertahan

Grebeg Suro adalah bukti bahwa kearifan lokal tidak selalu kuno dan stagnan. Ia bisa dirancang ulang, disesuaikan konteks, dan tetap bermakna. Yang terjadi di Ponorogo setiap malam 1 Suro adalah percakapan panjang antara masa lalu dan masa kini: kalender abad ke-17 bertemu festival modern, tirakatan warok bertemu panggung internasional, keheningan batin bertemu sorak penonton.

Jika selama ini kamu menganggap Grebeg Suro hanya sekedar tontonan tahunan, mungkin sudah waktunya duduk lebih dekat—dan mendengarkan apa yang sebenarnya dirayakan.***


Rujukan

  1. Historia.id. “Memulai Kalender Jawa.” Historia.id. https://historia.id/agama/articles/memulai-kalender-jawa-6jklb 
  2. National Geographic Indonesia. “Sejarah Kalender Jawa: Malam Satu Suro yang Bertepatan dengan Tahun Baru Islam.” nationalgeographic.grid.id. https://nationalgeographic.grid.id/read/134267298/sejarah-kalender-jawa-malam-satu-suro-yang-bertepatan-dengan-tahun-baru-islam 
  3. Keraton Yogyakarta. “Kalender Jawa Sultan Agungan.” kratonjogja.id. https://www.kratonjogja.id/ragam/21-kalender-jawa-sultan-agungan/ 
  4. Balai Media Kebudayaan, Kemenbud. “Makna Tahun Baru Islam 1 Suro Tahun Hijriah.” balaimedia.kemenbud.go.id. https://balaimedia.kemenbud.go.id/tajuk/makna-tahun-baru-islam-1-suro-tahun-hijriah—jmxb0129/ 
  5. BAZNAS. “Arti Asyura: Makna Istilah dan Signifikansinya bagi Muslim.” baznas.go.id. https://baznas.go.id/artikel-show/Arti-Asyura:-Makna-Istilah-dan-Signifikansinya-bagi-Muslim/1617 
  6. Wikipedia bahasa Indonesia. “Grebeg Suro.” id.wikipedia.org. https://id.wikipedia.org/wiki/Grebeg_Suro 
  7. Wikipedia bahasa Indonesia. “Festival Nasional Reog Ponorogo.” id.wikipedia.org. https://id.wikipedia.org/wiki/Festival_Nasional_Reog_Ponorogo 
  8. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. “Grebeg Suro Ponorogo.” budaya-indonesia.org. https://budaya-indonesia.org/Grebek-Suro-Ponorogo 
  9. Kementerian Pariwisata RI. “The National Reog Ponorogo Festival and Grebeg Suro Festival.” indonesia.travel. https://www.indonesia.travel/us/en/events/event-detail/the-national-reog-ponorogo-festival-and-grebeg-suro-festival/ 
  10. Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud. “UNESCO Setujui Usulan Indonesia Masukkan Reog Ponorogo dalam Daftar WBTb Dunia.” kebudayaan.kemdikbud.go.id, 4 Desember 2024. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/unesco-setujui-usulan-indonesia-masukkan-reog-ponorogo-dalam-daftar-warisan-budaya-takbenda-wbtb-dunia-menbud-fadli-zon-tegaskan-komitmen-pemerintah-majukan-budaya-bangsa/ 
  11. Wikipedia bahasa Indonesia. “Keris.” id.wikipedia.org. https://id.wikipedia.org/wiki/Keris 
  12. Museum Sonobudoyo Yogyakarta. “Tapa Bisu Salah Satu Tradisi Malam Satu Suro.” sonobudoyo.jogjaprov.go.id. https://sonobudoyo.jogjaprov.go.id/id/tulisan/read/tapa-bisu-salah-satu-tradisi-malam-satu-suro 
  13. FMIPA Universitas Negeri Surabaya. “Malam 1 Suro dalam Perspektif Etnosains.” s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id. https://s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id/post/malam-1-suro-dalam-perspektif-etnosains-antara-tradisi-kosmologi-dan-ilmu-pengetahuan-lokal 
  14. Ricklefs, M.C. “Islamising Java: The Long Shadow of Sultan Agung.” Archipel (jurnal). Dikutip melalui National Geographic Indonesia.