Di awal 2026, ketika puasa bahkan belum benar-benar mengetuk pintu, linimasa sudah lebih dulu membuka etalase: baju Lebaran yang diperdebatkan.
KOSONGSATU.ID—Model yang belakangan ramai disebut “gamis hanbok” menggabungkan siluet hanbok Korea—terutama potongan atasan mirip jeogori dengan kerah V dan aksen pita—dengan rok gamis yang lebar, jatuh, dan menutup. Ia hadir sebagai perpaduan yang sengaja: syar’i, namun terasa akrab bagi generasi yang tumbuh bersama drakor dan estetika Korea di media sosial.
Di TikTok dan Instagram, video “spill” baju Lebaran mulai beredar lebih cepat daripada kalender Ramadan. Di pasar, tren itu juga punya jejak: media hiburan Detik/Wolipop melaporkan koleksi hanbok ala Korea yang kembali viral dari sebuah toko di Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan disebut menjadi buruan pembeli untuk Lebaran 2026.
Dari Joseon ke Pengajian: Estetika yang “Nyeberang”
Di beberapa unggahan, gamis hanbok tampil dalam palet pastel—lilac, baby blue, soft pink, hingga krem—warna yang di ruang digital sering diasosiasikan dengan gaya manis dan ringan. Bahan yang disebut-sebut warganet dan penjual pun beragam, dari ceruti hingga kain yang memberi efek mengalir dan berkilau lembut. Di Tanah Abang, pemilik toko yang diwawancarai Wolipop menyebut bahan koleksinya bervariasi dan memadukan beberapa material, termasuk ceruti.
Dalam tayangan Metro TV, tren “gamis hanbok” bahkan disebut sebagai salah satu arus busana muslimah menjelang Ramadan 2026, dengan pedagang menyampaikan harga yang berbeda untuk pembelian grosir dan satuan—sebuah sinyal bahwa tren ini tidak hanya hidup sebagai meme, tetapi juga sebagai komoditas.
Namun yang membuatnya menempel di kepala publik bukan sekadar potongan. Ia bekerja sebagai simbol: bagaimana konsumsi budaya Korea—yang dulu tinggal di layar—kini menyusup ke busana hari raya, momen yang biasanya sarat rujukan tradisi dan keluarga.
Warganet Terbelah: “Lucu Banget” atau “Cosplay?”
Seperti tren viral lain, kolom komentar menjadi panggung kedua. Dalam naskah ini, reaksi warganet digambarkan terbelah: ada yang menyambutnya sebagai desain yang “fresh” dan terasa muda, bahkan membayangkan seragaman keluarga; ada pula yang menyindirnya sebagai kostum karnaval, seolah Lebaran berubah jadi lokasi syuting drakor kolosal.



Tinggalkan Balasan