Abu vulkanik mengganggu 24 penerbangan ke Bali, memaksa dua bandara ditutup, dan memicu status “Awas” tertinggi bagi masyarakat.


KOSONGSATU.ID—Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur kembali menunjukkan amarahnya. Senin pagi, 7 Juli 2025, sebuah erupsi eksplosif melontarkan abu pekat ke langit setinggi 18 kilometer.

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam itu membubung dengan arah dominan ke utara, timur laut, dan barat laut, disertai aliran lava ke dua arah sejauh hampir lima kilometer.

Dampaknya langsung terasa jauh dari pusat letusan. Pulau Bali, yang berjarak ratusan kilometer, mengalami gangguan penerbangan parah akibat sebaran abu vulkanik yang terbawa angin.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar mencatat 22 jadwal penerbangan internasional terganggu—mulai dari penundaan hingga pembatalan total. Dua penerbangan domestik rute Bali–Labuan Bajo milik AirAsia juga batal terbang.

Setidaknya 24 penerbangan ke Bali dibatalkan, termasuk dari rute-rute utama seperti Australia, Singapura, dan Korea Selatan. Maskapai internasional pun mengambil langkah ekstrem.

Virgin Australia menghentikan tiga jadwal pergi-pulang ke Bali. Qantas menunda dua penerbangan, dan JetStar membatalkan sebagian besar operasionalnya dari dan ke Pulau Dewata.

“Demi keselamatan, kami membatalkan beberapa penerbangan dan terus memantau awan abu,” kata Ahmad Syaugi Shahab, pejabat Bandara Ngurah Rai, seperti dikutip Reuters.

Tak hanya Bali yang terdampak. Bandara Fransiskus Xaverius Seda di Maumere dan Bandara Gewayantana di Larantuka juga harus menghentikan aktivitas sementara karena paparan abu.

Otoritas bandara menyatakan penutupan akan berlangsung setidaknya hingga Selasa (8/7), sambil menunggu perkembangan situasi dari lapangan.

Menurut Badan Geologi, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kali ini tergolong eksplosif, dengan amplitudo maksimum 47,3 mm dan durasi letusan mencapai 6 menit 26 detik. Status gunung pun dinaikkan ke Level IV—status “Awas”, level tertinggi dalam sistem peringatan aktivitas vulkanik.

Pemerintah melalui BNPB dan PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan agar tidak mendekati radius 6 kilometer dari kawah. Selain itu, area antara barat daya hingga timur laut sejauh 7 kilometer dari titik erupsi juga dinyatakan zona bahaya.

Warga juga diminta waspada terhadap kemungkinan banjir lahar hujan, khususnya di sepanjang aliran Sungai Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, dan Nurabelen.

Meski letusannya hebat, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan besar sejauh ini. Warga di sekitar gunung sebagian besar sudah bersiaga sejak akhir 2023, ketika status “Awas” sempat diberlakukan dalam erupsi sebelumnya. Pemerintah pun telah mendistribusikan 50.000 masker dan memastikan ketersediaan logistik bagi masyarakat terdampak.

Di desa-desa seperti Nawakote, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Pululera, aktivitas masyarakat dihentikan total. Abu vulkanik terlihat menutupi atap dan jalan. Tim BPBD Flores Timur segera turun ke lapangan untuk membagikan masker dan memastikan warga tidak beraktivitas di zona merah.

“Kami tetap siaga dan terus mendampingi warga. Syukurlah, masyarakat kini lebih tanggap terhadap pola letusan dan risiko bencana,” ujar Avelina Manggota Hallan dari BPBD Flores Timur.***