Pada 1 April 2023, Sekretaris Jenderal DHIBRA Khoirul Mudzakkir menegaskan bahwa tasyakuran digelar dua kali setahun: Agustus secara Masehi dan Ramadan secara Hijriah. Dua kalender, satu semangat: syukur yang diwujudkan dalam aksi sosial.

Puncaknya terjadi pada 10 September 2025. Distribusi pangan meluas hingga menjangkau 24 provinsi dan tiga negara tetangga. Dana sebesar Rp2,2 miliar disalurkan kepada 10.000 anak yatim dan kaum miskin. Selain santunan tunai, lumbung komunitas membagikan buah dan sayur segar secara cuma-cuma—hasil panen yang ditanam dan dirawat oleh warga sendiri.

Santunan Nasional memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2022. – Istimewa

Dari Lumbung ke Solidaritas Nasional

Ketua Umum DHIBRA, Nyai Shofwatul Ummah, menegaskan bahwa seluruh dana santunan berasal dari gotong royong Warga Besar Thoriqoh Shiddiqiyyah. Pernyataan itu bukan sekadar klaim administratif, melainkan fondasi moral gerakan ini: kedaulatan ekonomi dimulai dari disiplin berbagi.

Di tingkat lokal, pemerintah daerah memberikan apresiasi. Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid, menyebut gerakan ini sebagai wujud tanggung jawab warga negara dalam menjaga kerukunan dan ketahanan sosial. Dalam konteks daerah agraris seperti Jombang, inisiatif komunitas semacam ini memperlihatkan bagaimana ketahanan pangan tidak selalu menunggu intervensi besar negara.

Apa yang dibangun Shiddiqiyyah pada dasarnya adalah lingkaran tertutup yang produktif: usaha menghasilkan surplus, surplus diputar menjadi santunan, santunan menjaga daya beli kelompok rentan, dan daya beli itu kembali menghidupkan ekonomi lokal. Sebuah ekonomi sirkular yang tidak berhenti pada jargon, melainkan hadir dalam paket sembako, uang tunai, dan sayuran segar di tangan warga.

Di tengah wacana defisit pangan dan ketergantungan impor yang kerap menghantui diskursus nasional, model ini memberi catatan lain: bahwa komunitas dengan tata kelola internal yang rapi dapat menjadi penyangga sosial yang efektif. Ia tidak menggantikan peran negara, tetapi melengkapinya.