Pada akhirnya, ekonomi sirkular Shiddiqiyyah bukan sekadar tentang angka miliaran rupiah yang didistribusikan. Ia adalah tentang membangun rasa cukup di tengah kekurangan, tentang memutar rezeki agar tidak berhenti di satu tangan. Di situlah lumbung pangan itu menemukan maknanya—bukan hanya sebagai cadangan bahan pokok, tetapi sebagai simbol kemandirian yang dirawat bersama.***
Halaman


Tinggalkan Balasan