Kedua, ia menolak keras penggunaan intervensi militer. “Membuka Selat Hormuz dengan paksa bukanlah pilihan yang kami ambil. Kami menganggap opsi tersebut sama sekali tidak realistis,” tambah Macron.
Insiden ini kembali memperlihatkan perbedaan gaya kepemimpinan yang kontras. Sementara Trump terus menggunakan retorika agresif yang menyerang personal, Macron berusaha mempertahankan postur diplomasi yang tenang dan berorientasi pada solusi.
Sikap Prancis yang menolak opsi kekerasan di Selat Hormuz sekaligus mengirimkan sinyal kuat kepada dunia bahwa jalur damai bersama Iran tetap menjadi prioritas utama.***
Halaman



Tinggalkan Balasan