Naskah lontar kuno Suku Sasak menyimpan 163 spesies tanaman obat untuk 263 jenis penyakit. Hampir 40 persen di antaranya hanya dikenal dalam bahasa Sasak — dan belum pernah dikaji farmakologi.
KOSONGSATU.ID — Jauh sebelum puskesmas ada, Suku Sasak Lombok sudah punya sistem kesehatan yang lengkap. Bukan sekadar dukun dengan mantra — melainkan spesialis dengan keahlian yang terdokumentasi dalam naskah lontar kuno bernama Usada.
Dari lima teks Usada yang diteliti para peneliti, ditemukan 163 spesies tanaman untuk menangani 263 jenis penyakit. Sebuah farmakopeia yang lebih tebal dari sebagian besar buku teks kedokteran tradisional yang pernah dikodifikasi di Nusantara.
Sistem rujukan yang terlupakan
Pengetahuan itu tidak dikelola satu orang. Para Belian — tabib tradisional Sasak — memiliki empat spesialisasi berbeda: pengobatan umum, persalinan (belian ranak), patah tulang (belian polak), dan pijat urut (belian pijat).
Ini bukan pembagian kerja yang acak. Ini sistem rujukan kesehatan yang tersegmentasi berdasarkan kompetensi — persis seperti yang kita kenal dalam sistem medis modern.
Yang belum pernah dibaca sains
Yang paling mengkhawatirkan justru ada di angkanya: dari 163 spesies tanaman dalam Usada, 63 nama — sekitar 38 persen— hanya dikenal dalam bahasa Sasak dan belum masuk sistem taksonomi nasional Indonesia.
Artinya hampir dua pertiga kekayaan herbal Sasak belum pernah dikaji farmakologi. Belum diuji apakah menyimpan senyawa baru, belum dianalisis potensi obatnya, belum dicatat sebelum nama-namanya ikut menghilang bersama Belian terakhir yang menghafalnya.
Padahal, yang sudah sempat diteliti sudah cukup menjanjikan. Kajian AIP Conference Proceedings(2019) menemukan beberapa tanaman dalam resep Belian Sasak mengandung senyawa aktif antimikroba dan antiinflamasi yang terkonfirmasi secara farmakologi modern.
Pengetahuan yang menunggu untuk dibaca
Dunia farmasi selama ini berburu senyawa baru ke hutan Amazon dan savana Afrika. Sementara di lontar-lontar tua Lombok, ratusan spesies tanaman menunggu — belum dibaca, belum diterjemahkan, belum diuji.
Yang tersisa tinggal pertanyaan: apakah kita akan membacanya sebelum naskahnya lapuk, atau setelah?***
Daftar Rujukan:
- Yamin, M., Burhanudin, Jamaludin, & Nasruddin. (2018). Pengobatan dan Obat Tradisional Suku Sasak di Lombok. Jurnal Biologi Tropis, 18(1), 1–12. https://www.neliti.com/publications/274192
- Rahayu, M., Rustiami, H., & Rugayyah. (2016). Ethnobotanical Study of Sasak Ethnic, East Lombok, West Nusa Tenggara. Cocos Bio Journal. https://e-journal.hamzanwadi.ac.id
- Supatmiwati, dkk. (2025). Digitization of Sasak Traditional Medicine: An Effort to Preserve Local Language on Medicine Plants. Humanus — Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora. Universitas Negeri Padang. https://ejournal.unp.ac.id
- Wariani, dkk. (2023). Ethnobotany of Traditional Medicine of the Sasak Bayan Tribe, Anyar Village, North Lombok. Jurnal Biologi Tropis, 23(2), 361–371. https://www.researchgate.net/publication/371127783
- AIP Conference Proceedings. (2019). Medicine from Nature: Identification of Medicinal Plants Used by Belian (Sasakese Indigenous Healer) in Traditional Medicine in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. AIP Publishing. https://pubs.aip.org/aip/acp/article/2019/1/050003




Tinggalkan Balasan