Bukan sekadar dinding dan atap, tapi ruang baru untuk cinta, doa, dan kehidupan yang lebih bermartabat.
KOSONGSATU.ID — Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) membangun rumah layak bagi tiga keluarga di tiga daerah. Mereka adalah Tanem (48) di Desa Banjaransari, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi; Daricih (lahir 1978) di Jakarta Utara; dan Ibu Carning (kelahiran 1983) di Desa Semanding, Tuban.
Seluruh pembiayaan—mulai material, ongkos tukang, hingga perabot—ditanggung OPSHID.
Tanem: Ibu Tangguh di Ngawi
Sejak suami wafat tiga tahun lalu, Tanem menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai buruh tani, membuka warung sembako, dan berjualan gorengan setiap sore. Uang yang terkumpul diprioritaskan untuk sekolah ketiga anaknya: Ali (23) lulusan SMK yang bekerja di pabrik plastik di Nganjuk, Eva Putri (12) kelas 6 SD, dan Akmal Latif (10) kelas 4 SD.
Pengalaman masa kecil membentuk tekadnya. Dari tujuh bersaudara, hanya anak laki-laki yang disekolahkan. Ia menutup luka lama itu dengan memastikan putra-putrinya lulus minimal pendidikan menengah.
Rumah Tanem tak lagi layak. Dinding papan dan anyaman bambu miring dan keropos, penyangga atap melemah, lantai masih tanah. Keinginannya memperbaiki rumah disimpan rapat karena seluruh biaya dialihkan untuk pendidikan anak.
Harapan datang saat OPSHID menyatakan siap membongkar dan membangun total rumah Tanem. “Saya bersyukur… Semoga Alloh yang membalas, diberi rezeki dan kesehatan,” ujar Tanem kepada OPSHIDMEDIA Ngawi beberapa waktu lalu.

Umamah, perwakilan DPD OPSHID Ngawi, menyebut kabar pembangunan membuat Ali—putra sulung Tanem—tak kuasa menahan tangis. “Waktu saudaranya telepon ngasih update pembangunan rumah, sampai nangis anak pertamanya Bu Tanem,” kata Umamah (tanggal keterangan tidak disebut).
Peletakan batu pertama dilakukan pada 20 September 2025. OPSHID menargetkan penyelesaian sebelum 28 Oktober 2025 (Sumpah Pemuda).
Daricih: Bertahan di Jakarta Utara
Daricih lahir di Indramayu dan merantau ke Jakarta pada usia sekitar 16 tahun. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga, lalu hampir 20 tahun di konveksi. Ia mengundurkan diri setelah upah tiga bulan tak dibayar. Kini keluarga bertumpu pada pendapatan suaminya sebagai pengemudi ojek online. Mereka tinggal bersama mertua sejak 2007.
Rumah warisan almarhumah ibu kandungnya kerap bocor dan banjir. Ukuran 3×8 meter terasa sesak. “Kalau dulu kerja, tiap hari pulang malam. Sekarang berhenti… tapi alhamdulillah, masih ada rezeki dari bapaknya anak-anak,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Pertolongan datang saat OPSHID menetapkan rumah Daricih sebagai penerima program pembangunan. “Seneng banget… Tabungan aja gak punya, tapi Alloh kirim orang-orang baik yang bangunin rumah saya,” kata Daricih. Kini, atap baru menahan hujan; rumah berubah jadi tempat tinggal yang layak.
Carning: Mengumpulkan Batu, Datang Bantuan
Di Desa Semanding, Tuban, Ibu Carning hidup dari kerja harian sebagai buruh tani lepas dengan upah sekitar Rp80–85 ribu per hari, tergantung musim. Lima tahun lalu, rumah tangganya berakhir. Ia tinggal sendiri di rumah papan berukuran 8×8 meter dengan genting reyot dan dinding rapuh. Saat hujan, air menetes dari banyak titik dan menggenangi lantai tanah.
Putranya, Feri (22), bekerja di Surabaya untuk membantu melunasi utang keluarga. Di sela ketidakpastian kerja, Ibu Carning menyisihkan penghasilan untuk membeli batu kumbung—satu per satu, disusun rapi di sekitar rumah—dengan harapan suatu saat bisa membangun dinding yang kokoh.
Pada suatu kunjungan, relawan OPSHID mendata kondisi rumahnya. Kabar baik menyusul: rumah Carning dibangun ulang.
“Saya menangis. Kaget, tahu-tahu dibuatkan ruma,” ucapnya, beberapa waktu lalu. Saat peletakan batu pertama pada 20 September 2025, Feri pulang. Senyum ibunya kembali merekah.

Seiring progres pembangunan, Ibu Carning tak lagi cemas tiap kali hujan. “Alhamdulillaah, Allah mengirimkan orang-orang baik yang mau menolong,” tuturnya lirih, dikutip dari OPSHIDMEDIA.net.
Komitmen dan Target
OPSHID menyatakan program rumah layak huni berjalan tanpa pungutan terhadap penerima manfaat. Untuk kasus Tanem, peletakan batu pertama digelar 20 September 2025, dengan target rampung sebelum 28 Oktober 2025.
Untuk rumah Daricih dan Carning, pekerjaan berjalan bertahap menyesuaikan teknis lapangan dan kesiapan material. Rincian jadwal pembangunan dan serah terima akan diumumkan relawan di masing-masing lokasi (jadwal rinci tidak disebut).
Dampak: Martabat, Pendidikan, dan Rasa Aman
Ketiga kasus memperlihatkan pola serupa: para ibu memilih menunda kebutuhan tempat tinggal demi pendidikan anak. Intervensi OPSHID mengembalikan rasa aman—atap tak lagi bocor, lantai tak lagi tergenang—sekaligus menjaga martabat keluarga. Bagi Tanem, rumah baru berarti fokus pendidikan anak tetap terjaga.
Bagi Daricih, hunian layak menutup luka banjir dan menata ulang harapan. Bagi Carning, dinding kuat menggantikan papan lapuk yang hampir runtuh.
“Semoga Allah membalas kebaikan Anda semuanya,” doa Carning. Senada dengan Tanem dan Daricih, ucapan syukur menjadi penutup setiap kisah.***






0 Komentar