Negara Arab bungkam saat serangan AS-Israel membuat Khamenei gugur, tapi murka ketika Iran membalas. Kepentingan geopolitik jadi alasannya.


KOSONGSATU.ID – Amerika Serikat dan Israel operasi militer brutal ke Iran pada akhir pekan lalu (28/2). Serangan ini menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta keluarganya syahid. Gugurnya sang pemimpin lantas memicu Iran melancarkan serangan balasan masif ke wilayah Israel dan berbagai pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan, termasuk di negara-negara Arab.

Sikap negara-negara Arab memancing sorotan tajam. Saat AS dan Israel menggempur Iran, mayoritas negara Teluk hanya bereaksi normatif dan meminta semua pihak menahan diri. Namun, ketika rudal Iran melintasi wilayah mereka untuk menghantam aset AS, negara-negara Arab murka dan mengancam akan mengambil tindakan tegas.

Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, melalui platform X pada Senin (2/3), langsung mengklarifikasi arah serangan negaranya. “Kami tidak menargetkan Anda [negara Arab], tapi pangkalan militer yang mereka gunakan untuk menyerang kami yang akan menjadi target,” tegas Larijani.

Jerat “Board of Peace” dan Ketergantungan Militer

Mengapa negara-negara Arab terkesan mengekor Washington? Pengamat Timur Tengah sekaligus Ketua Program Studi Doktor Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menyoroti keanggotaan mereka dalam Board of Peace (BoP). Presiden AS Donald Trump membentuk organisasi berisi 27 negara ini pada 22 Januari lalu.

“Saat serangan AS-Israel ke Iran terjadi, momentumnya tepat berada di tengah keberadaan Board of Peace,” kata Yon, Selasa (3/3).

Yon menjelaskan, posisi Trump sebagai ketua BoP menciptakan dilema besar bagi negara anggota, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, untuk mengecam tindakan agresif AS. Ironisnya, operasi militer gabungan itu justru menghancurkan misi perdamaian yang menjadi fondasi nama organisasi tersebut.

Di sisi lain, Pakar Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Sya’roni Rofii, memandang negara-negara Arab sedang berada dalam posisi terjepit. Mereka sangat menggantungkan stabilitas keamanan regionalnya pada Amerika Serikat. Saat ini, Washington mengoperasikan pangkalan militer di Arab Saudi, Bahrain, UEA, Qatar, Kuwait, Yordania, hingga Irak.

“Secara keamanan, negara-negara Arab sangat bergantung pada proteksi AS,” ungkap Sya’roni.

Oleh sebab itu, ketika rudal Iran melintasi wilayah udara mereka atau menargetkan pangkalan AS di tanah mereka, negara-negara Arab menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan. Sikap ini berujung pada deklarasi bersama enam negara Arab dan AS yang menegaskan hak mereka untuk membela diri.

Eskalasi Memanjang dan Agenda Tersembunyi Washington

Meski berang terhadap Iran, Sya’roni meyakini negara-negara Arab tidak akan nekat meluncurkan serangan ofensif ke Teheran. Mereka memilih bermain aman lewat diplomasi agar tidak terseret jauh ke dalam lumpur konflik.

“Perang saat ini adalah perangnya AS dan Israel. Tidak ada urgensi bagi negara Arab untuk turun ke medan tempur,” tambahnya.

Sayangnya, konflik ini diprediksi tidak akan usai dalam semalam. AS dan Israel awalnya salah perhitungan. Mereka mengira rezim Iran akan runtuh dan menyerah setelah Khamenei tewas. Kenyataannya, Pasukan Garda Revolusi Islam merespons dengan kekuatan penuh. Mereka sukses menghantam 27 pangkalan AS di Timur Tengah dan aset vital Israel, termasuk Markas Besar Pertahanan dan gedung Microsoft di Be’er Sheva.

“Iran membalas dengan kekuatan penuh. Perang ini tidak akan selesai dalam hitungan hari, tapi mungkin berminggu-minggu ke depan. Ini jelas di luar prediksi AS dan Israel,” jelas Yon. Teheran bahkan menolak keras tawaran negosiasi dari Trump dan menegaskan kesiapan mereka menghadapi perang panjang.

Lebih jauh, Yon menganalisis bahwa AS memiliki agenda pragmatis yang lebih besar: melucuti program nuklir Iran, mengganti rezim penguasa, dan menancapkan pengaruh atas cadangan minyak terbesar ketiga di dunia milik Iran. “AS ingin wilayah Timur Tengah sepenuhnya US-friendly, menghapus poros perlawanan, dan memaksa negara-negara di sana melakukan normalisasi dengan Israel,” papar Yon.

Mencegah Krisis Global Bersama

Apabila perang terus berlarut, dunia akan menghadapi ancaman krisis global baru. Untuk mencegah skenario terburuk itu, negara-negara Arab sebenarnya memiliki daya tawar yang sangat signifikan.

Sya’roni menyarankan agar negara-negara Arab mulai bersikap lebih proaktif menggunakan platform internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), PBB, atau Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

“Jika negara-negara GCC bersuara bulat meminta Trump untuk mengakhiri serangannya, saya kira Trump pasti akan mempertimbangkannya,” tutup Sya’roni. Pada akhirnya, stabilitas Timur Tengah tidak bisa hanya mengandalkan kebisuan diplomasi, melainkan langkah nyata negara-negara kawasan untuk meredam ambisi militer kekuatan besar.

Pada akhirnya, pusaran konflik ini menjadi ujian terberat bagi kemandirian diplomasi negara-negara Arab. Berlindung di balik payung keamanan Washington memang memberikan rasa aman sesaat, namun membiarkan eskalasi berlarut sama saja dengan menanam bom waktu di halaman sendiri. Kunci meredam bara api di Timur Tengah kini tidak hanya bergantung pada adu rudal AS, Israel, dan Iran, tetapi pada keberanian dunia Arab untuk bersuara. Jika diplomasi kolektif gagal digerakkan, bukan tidak mungkin perang ini akan membakar seluruh kawasan dan menyeret dunia ke jurang krisis baru. Dunia kini menanti langkah nyata, bukan lagi sekadar kebisuan diplomasi.***