​”Kampung Pancasila ini luar biasa. Di sini sudah jalan terkait pilah sampah, terkait orang yang mampu membantu orang yang tidak mampu. Ini saya buat jadi prototype untuk ke depannya,” tegas Eri Cahyadi dalam keterangannya.

​Eri menekankan bahwa esensi Kampung Pancasila bukan sekadar implementasi nilai dasar, melainkan wadah untuk menggalakkan toleransi kaffah (menyeluruh) dan solusi tuntas masalah banjir melalui sinkronisasi Musrenbang.

Analisis: Melawan Stigma “Kampung Tematik”

​Selama ini, banyak kampung tematik hanya berakhir sebagai objek swafoto. Namun, Ngagel Rejo mematahkan stigma tersebut dengan membangun sistem keamanan terpadu (SISKAMDU) satu pintu dan ketahanan pangan melalui 48 unit urban farming.

​Tantangan ke depan adalah konsistensi. Menjaga kohesi sosial 100% warga di lingkungan urban yang heterogen tentu bukan perkara mudah. Namun, dengan laporan saldo yang transparan hingga satuan rupiah, warga Ngagel Rejo telah meletakkan fondasi terkuat dalam bernegara: yaitu Kepercayaan.***