Saat ilmuwan baru merumuskan mitigasi bencana, leluhur Sunda dan Banten sudah mempraktikkannya ratusan tahun—bukan sebagai ritual, tapi sebagai tata kelola alam yang presisi secara ekologis.
KOSONGSATU.ID — Sebelum ada BMKG, sebelum ada sensor seismik, masyarakat adat Sunda sudah membangun sistem mitigasi bencana yang bekerja diam-diam—dan terbukti efektif.
Leluhur Sunda tidak memandang hutan sebagai lahan kosong yang siap dieksploitasi. Mereka membaginya secara etis ke dalam tiga zona dengan fungsi ekologis yang saling mengunci.
Zona pertama, leuweung titipan, adalah hutan larangan yang tidak boleh disentuh siapa pun. Fungsinya: menahan longsor dan menjaga sumber air. Zona kedua, leuweung tutupan, berperan sebagai sabuk hijau penyangga resapan air dan reboisasi alami. Zona ketiga, leuweung baladahan, adalah ruang hidup manusia—ladang dan kebun—yang tetap dikelola dalam batas ketat.
Sistem ini bukan ritual. Penelitian arsitektur dan ekologi dari komunitas Kasepuhan membuktikan bahwa pembagian ruang ini secara langsung menekan risiko banjir dan longsor di kawasan pegunungan.
Logika penghormatan yang sama berlaku pada air. Konsep cinyusu rumateun mewajibkan warga merawat mata air sebagai tanggung jawab kolektif—jauh sebelum ada regulasi lingkungan modern yang mengatur hal serupa.
Arsitektur yang Menari Bersama Gempa
Di wilayah Banten, masyarakat Baduy telah lama menolak material berat dalam konstruksi hunian. Rumah mereka dibangun dari kayu dan bambu, diikat rotan dan ijuk, berdiri di atas pondasi batu tanpa paku sekalipun.
Keputusan ini bukan keterbatasan teknologi. Jurnal Menara (UPI-YAI, 2024) yang secara khusus mengidentifikasi kearifan lokal Baduy dalam desain tahan gempa menyimpulkan bahwa sistem sambungan fleksibel inilah yang membuat bangunan “menari” saat gempa—bergerak mengikuti getaran, bukan melawan. Prinsip flexibility over rigidity ini kini menjadi acuan dalam rekayasa struktur modern.
Bambu sendiri, menurut penelitian Jurnal Pendidikan IPS (2022), terbukti lentur sekaligus kuat dalam menyerap getaran seismik—menjadikannya material tahan gempa alami yang belum sepenuhnya dioptimalkan oleh industri konstruksi modern.

Memori Bencana yang Tak Boleh Padam
Masyarakat Banten tidak membatasi mitigasi pada fisik bangunan. Mereka merawat ingatan kolektif letusan dahsyat Krakatau 1883 melalui ritual Haul Kalembak—sebuah tradisi yang sempat surut namun kini dihidupkan kembali sebagai peringatan kewaspadaan terhadap ancaman serupa di masa depan.
Pengetahuan kebencanaan ini juga tersimpan dalam manuskrip kuno seperti Parimbon, Kekedutan, dan Jangjawokan yang kini diteliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN.
Di Kampung Adat Cirendeu, Kota Cimahi, nilai ini hidup dalam filosofi “Kalau alam rusak, manusia ikut rusak.” Inovasi pangan rasi (nasi singkong) yang dikonsumsi sejak 1924 membebaskan warga dari ketergantungan beras—sebuah strategi ketahanan pangan yang melampaui zamannya. Pada 14 Januari 2026, tim GreenFaith Indonesia datang belajar langsung dari komunitas ini. Negara pun resmi memberikan pengakuan hukum melalui SK Kesatuan Masyarakat Hukum Adat pada Desember 2024.
Saat Sains Membenarkan Leluhur
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan bahwa tradisi dan sains modern bukanlah dua kutub yang bertentangan. Keduanya, katanya, saling mengisi ketika peneliti membuka diri untuk duduk bersama komunitas adat.
Webinar BRIN “Mitigasi Bencana: Antara Tradisi dan Sains” (31 Oktober 2025) membuktikan hal ini. Kepala PR MLTL BRIN, Sastri Sunarti, menekankan bahwa edukasi berbasis tradisi dan sains secara bersamaan mampu membangun ketenangan sekaligus kesiapsiagaan—khususnya menghadapi potensi gempa megathrust di Mentawai dan pesisir Sumatera.
Di lapangan, satu kalimat dalam bahasa daerah terkadang lebih efektif menyelamatkan nyawa daripada sirene dan instruksi teknis. Itulah mengapa BRIN dan BMKG kini bergerak menuju integrasi pengetahuan lokal ke dalam sistem peringatan dini nasional.
Jalan keluar dari krisis iklim dan ancaman bencana yang kian intensif mungkin tidak selalu lahir dari laboratorium raksasa. Kadang, ia sudah lama menunggu di kampung-kampung adat yang selama ini kita pandang sebelah mata. Sudah saatnya kita berhenti merendahkan kearifan yang sudah terbukti menyelamatkan nyawa, dan mulai belajar darinya. ***
Daftar Pustaka
- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2026, 28 Januari). Kearifan Lokal Sunda dalam Strategi Mitigasi Bencana Nasional. Laman Resmi BRIN.
- Diskusi Webinar BRIN. (2025, 31 Oktober). Mitigasi Bencana antara Tradisi dan Sains. Jakarta.
- Parlan, Hening. (2026, 14 Januari). Pernyataan Kunjungan GreenFaith Indonesia ke Kampung Adat Cirendeu. Kota Cimahi.
- Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN. Arsip Kesadaran Kolektif Bencana: Parimbon, Kekedutan, dan Jangjawokan.





Tinggalkan Balasan