Reuters, dengan mengutip tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut, melaporkan perusahaan AI China DeepSeek sedang mengembangkan cip AI sendiri. Langkah itu ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap cip buatan Nvidia dan Huawei.
Menurut sumber Reuters, DeepSeek juga meningkatkan perekrutan insinyur desain cip dalam beberapa bulan terakhir. Namun, perekrutan itu dilakukan secara tertutup dan perusahaan belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan AI global tidak lagi terbatas pada pembuatan aplikasi atau model bahasa. Persaingan telah meluas ke desain cip, pusat data, pasokan energi, data pelatihan, perangkat lunak, dan ketersediaan tenaga ahli.
Ledakan AI pada akhirnya menghadirkan dua sisi bagi Indonesia. Investasi pusat data dapat membawa modal, meningkatkan permintaan listrik, dan menciptakan kegiatan ekonomi baru. Namun, tanpa pengembangan industri cip, perangkat komputasi, perangkat lunak, dan sumber daya manusia lokal, Indonesia berisiko menjadi konsumen besar dalam rantai ekonomi AI global.
Data perdagangan resmi China akan menjadi petunjuk penting untuk melihat seberapa besar permintaan perangkat AI menopang ekspor negara tersebut. Bagi Indonesia, tren itu sekaligus menjadi peringatan bahwa persaingan industri digital tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengguna internet, tetapi juga oleh kemampuan memproduksi teknologi yang bekerja di baliknya.***



Tinggalkan Balasan