Menurut Airlangga, kapasitas pusat data yang telah beroperasi di Indonesia saat ini sekitar 580 megawatt. Ia memperkirakan nilai investasi tambahan untuk proyek pusat data berkapasitas 1,3 gigawatt tersebut dapat mencapai 15 miliar hingga 20 miliar dolar AS.
Airlangga sebelumnya juga menyebut pembangunan pusat data sebagai salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut dia, pusat data merupakan infrastruktur penting bagi pengembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.
Masalahnya, pertumbuhan pusat data belum otomatis menjadikan Indonesia produsen utama teknologi AI. Sebagian cip berperforma tinggi, server, perangkat jaringan, sistem penyimpanan, dan komponen pusat data masih harus didatangkan dari luar negeri.
Indonesia dengan demikian berisiko hanya menjadi lokasi penyimpanan dan pengolahan data, penyedia listrik, serta pasar pengguna. Sementara itu, nilai tambah terbesar tetap dinikmati produsen perangkat keras, pengembang cip, dan pemilik model AI di negara lain.
Pembangunan pusat data juga membutuhkan pasokan listrik besar, stabil, dan tersedia selama 24 jam. Karena itu, manfaat investasinya perlu diukur tidak hanya dari nilai modal yang masuk, tetapi juga dari penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, penggunaan komponen lokal, dan pengembangan tenaga ahli Indonesia.
Tekanan bagi Industri Elektronik Nasional
Gelombang ekspor teknologi China berpotensi menambah tekanan terhadap industri elektronik dalam negeri. Produsen Indonesia harus bersaing dengan perangkat yang dibuat dalam skala sangat besar dan dijual dengan harga kompetitif.
Persaingan tersebut tidak hanya terjadi pada komputer atau perangkat elektronik konsumen. Produk jaringan, penyimpanan data, kamera pintar, sensor, perangkat otomatisasi, hingga komponen untuk pusat data berpotensi semakin banyak masuk ke pasar Indonesia.
Di sisi lain, pembatasan akses China terhadap cip canggih buatan Amerika Serikat mendorong perusahaan negara tersebut mempercepat pengembangan semikonduktor sendiri.




Tinggalkan Balasan