Naik Lebih Tinggi, Bukan Berdebat
Descartes juga menulis, “Whenever anyone has offended me, I try to raise my soul so high that the offense cannot reach it.” Bila ada yang menyerangmu, naiklah setinggi mungkin sampai serangan itu tak bisa menjangkau.
Jangan buang energi untuk marah atau membalas. Fokuslah memperbaiki diri dan meninggikan pemahaman. Sebab, orang yang sibuk menyerang akan kehabisan tenaga, sementara kita melangkah makin jauh.
Dan satu nasihat yang paling relevan untuk dunia maya: “To know what people really think, pay attention to what they do, rather than what they say.”
Jangan cepat percaya pada apa yang orang katakan di layar. Lihatlah apa yang mereka lakukan di dunia nyata.
Jangan Pura-Pura Bodoh
Di akhir hidupnya, Descartes menulis kalimat yang seolah ditujukan untuk zaman ini: “Any community that gets its laughs by pretending to be idiots will eventually be flooded by actual idiots.”
Masyarakat yang terbiasa berpura-pura bodoh—menyebar hoaks, ikut-ikutan tanpa pikir panjang, atau berlagak lucu dengan menipu diri—akan benar-benar dipenuhi oleh kebodohan. Karena kepura-puraan itu menular, dan kebiasaan itu menurunkan kualitas akal sehat bersama.
Maka, mari kita jaga satu hal yang paling berharga: pikiran. Ragukan dulu, uji, baru percaya. Bersihkan isi kepala dari kebisingan yang tidak perlu. Karena, seperti kata Descartes, membenci itu mudah, mencintai itu sulit. Yang sulit itulah yang justru berharga.
Saatnya Menepi dari Kebisingan
Hidup di era banjir informasi memang tak mudah. Tapi siapa tahu, justru di tengah riuh inilah kita menemukan momen untuk diam sejenak… menarik napas… dan kembali belajar berpikir.
Descartes menyebutnya to live unseen—hidup dengan tenang, tidak selalu tampil, tidak selalu ingin dilihat. Mungkin, di zaman ini, itu bisa berarti mematikan notifikasi, menunda komentar, atau membiarkan satu isu lewat begitu saja tanpa kita ikut menambah keramaian.
Karena kadang, langkah paling bijak bukan menambah suara, tapi menjernihkan pikiran.***




1 Komentar