“Aku Berpikir, Maka Aku Ada”
Descartes bahkan pernah meragukan hal paling dasar: hidup itu sendiri. “Apa jaminannya bahwa aku tidak sedang bermimpi?” tulisnya. Dari keraguan ekstrem itu, ia menemukan satu-satunya kepastian: dirinya yang sedang berpikir. Dari sanalah lahir kalimat paling terkenal dalam sejarah filsafat: Cogito ergo sum — “Aku berpikir, maka aku ada.”
Artinya, seandainya semua yang kita lihat bisa menipu, masih ada satu hal yang tak bisa diragukan: keberadaan si peragu. Saat kita berpikir, berarti kita ada.
Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan rasionalisme—keyakinan bahwa akal, bukan indra atau emosi, adalah sumber pengetahuan yang paling bisa dipercaya. Mata bisa keliru, telinga bisa salah tangkap, tapi akal bisa menimbang dan mengoreksi.
Menjadi Sopir Bagi Diri Sendiri
Dalam pandangan Descartes, manusia adalah makhluk ganda: tubuh dan pikiran. Tubuh bekerja seperti mesin, tapi akal adalah sopirnya. Dan agar sopir itu bisa mengemudi dengan baik, ada enam “gangguan” yang harus dihindari: terlalu suka, terlalu benci, terlalu kagum, terlalu bersemangat, terlalu gembira, dan terlalu sedih.
Ketika salah satu dari enam hal itu menguasai kita, pikiran tak lagi jernih. Akal jadi kabur. Dalam bahasa sekarang: kita sedang tidak objektif.
Di sini pula Descartes memperkenalkan etika rasional. Untuk tahu mana yang baik dan mana yang buruk, katanya, pikirkan empat hal: keberadaan Tuhan, posisi kita di semesta, keseimbangan tubuh dan jiwa, serta kehendak bebas. Berbuat baik tanpa kebebasan bukanlah kebaikan, melainkan keterpaksaan.
Gunakan Akalmu dengan Benar
Kalau dibawa ke konteks hari ini, nasihat-nasihat Descartes terasa menohok. Ia berkata, “It is not enough to have a good mind; the main thing is to use it well.”
Tidak cukup punya akal sehat—kita harus tahu cara menggunakannya. Berakal saja belum tentu berpikir.
Di media sosial, kita sering melihat orang yang berniat baik justru memicu keributan. Niat menasihati, tapi hasilnya debat kusir. Kadang, yang baik di kepala kita belum tentu baik di telinga orang lain. Dan jika kebiasaan semacam itu terus dilakukan, lama-lama kita bisa ketagihan berdebat, bahkan merasa nikmat ketika suasana panas.
Descartes mengingatkan agar kita berhati-hati: kebiasaan buruk bisa menjadi watak, bahkan menurun seperti DNA. Maka, jagalah apa yang kita biasakan. Jangan biarkan diri kita menjadi “burung unta”—yang menutup kepala di pasir agar tak melihat bahaya, padahal tubuhnya masih di luar dan mudah diserang.




1 Komentar