Inovasi beras analog berbahan uwi menunjukkan potensi gizi lebih baik dan siap mendukung diversifikasi pangan nasional.


KOSONGSATU.ID—Pemanfaatan umbi uwi sebagai bahan baku beras analog terus menunjukkan perkembangan. Sejumlah riset perguruan tinggi di Indonesia membuktikan uwi dapat diolah menjadi beras tiruan non-padi yang lebih kaya serat, berindeks glikemik rendah, dan berpotensi mendukung kemandirian pangan nasional.

Beras analog merupakan beras tiruan yang dibuat dari bahan selain padi, tetapi dirancang menyerupai beras dari segi bentuk, tekstur, dan cara memasak. Dalam pengembangannya, uwi dipilih sebagai bahan utama karena kandungan patinya yang tinggi dan karakteristik gizinya yang beragam.

Produk beras analog uwi dikonsumsi layaknya nasi. Pendekatan ini dinilai memudahkan penerimaan masyarakat karena tidak mengubah pola makan secara drastis, sekaligus membuka peluang diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.

Keunggulan gizi menjadi nilai utama. Beras analog uwi memiliki serat pangan lebih tinggi, profil karbohidrat lebih seimbang, serta indeks glikemik yang relatif rendah dibanding nasi putih.

Teknologi ekstrusi menjadi metode utama dalam proses pembuatannya. Tepung uwi diproses melalui tekanan dan panas untuk membentuk butiran menyerupai beras, dengan warna krem muda dan tekstur pulen yang familiar bagi konsumen.

Riset Akademik Berbasis Ekstrusi

Aziza Nur Fitria, mahasiswi Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, dalam skripsinya berjudul Pengaruh Rasio Tepung Umbi Uwi Putih (Dioscorea alata) dan Tepung Beras Terhadap Mutu Beras Analog Uwi Putih (2015), membuktikan bahwa uwi putih dapat dijadikan bahan beras analog melalui teknologi ekstrusi.

Penelitian tersebut menguji kandungan amilosa, daya serap air, pengembangan volume, serta uji hedonik nasi beras analog. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dengan tiga variasi rasio tepung uwi, yakni 50 persen, 60 persen, dan 70 persen, dengan dua kali pengulangan.

Hasil analisis ANOVA menunjukkan perbedaan nyata pada kandungan amilosa, penyerapan air, dan pengembangan volume. Uji hedonik rasa, tekstur, dan aroma juga menunjukkan perbedaan signifikan, dengan nilai kesukaan tertinggi pada rasio tepung uwi 50 persen dan tepung beras 50 persen.

Indeks Glikemik Rendah dan Umur Simpan Panjang

Pengembangan lanjutan dilakukan oleh Fadhyl Muhammad Irhab Ra’uf dari IPB University dalam riset di Teknopark Pangan Grobogan pada 2025. Penelitiannya menunjukkan beras analog uwi memiliki indeks glikemik rendah dan serat pangan tinggi.

Kadar protein beras analog juga dapat ditingkatkan melalui fortifikasi tepung kacang-kacangan, seperti kedelai dan kacang merah. Selain itu, kadar air produk yang rendah membuat beras analog uwi lebih tahan lama dalam penyimpanan.

Dalam proses pemasakan, beras analog uwi hanya perlu dibilas untuk meningkatkan kadar air. Kandungan amilosa dan amilopektin yang seimbang membuat teksturnya tetap pulen saat dimasak.

Analisis laboratorium menunjukkan beras analog berbasis uwi mengandung mineral esensial dan serat larut. Karakteristik ini menjadikannya pangan fungsional potensial bagi konsumen yang mengelola diabetes, kolesterol, maupun berat badan.