Kewajiban menjaga martabat manusia, atau yang dikenal dengan siri‘, membuat verifikasi fakta menjadi harga mati. “Tanpa penelusuran dan kejujuran, sebuah kabar keliru adalah sembilu yang paling tajam. Ia dapat dengan mudah melukai harga diri dan menghancurkan kehormatan,” sebuah prinsip yang tergurat kuat dalam etika komunikasi masyarakat Bugis-Makassar, memastikan bahwa klarifikasi adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap eksistensi orang lain.

Musyawarah sebagai Jalan Kebenaran

Hinggap di tanah Jawa, detak harmoni terasa kental dalam penyelesaian konflik. Ketika riak informasi simpang siur mulai mengusik ketenangan, warga tidak beranjak menjadi reaktif. Semangat saling uji kabar dan menelusuri fakta mewujud nyata dalam tradisi Catur Gatra dan luhurnya Rembug Warga.

Pintu-pintu pendopo terbuka lebar, melambangkan transparansi hati. Di ruang publik yang netral itu, para sesepuh dan warga duduk bersimpuh untuk berdialog jujur demi mencari kebenaran objektif. Harmoni mereka kokoh justru karena mereka memilih jalan musyawarah untuk meluruskan prasangka.

Jauh di ufuk barat, masyarakat Minangkabau memegang teguh kompas kehidupan alam takambang jadi guru. Falsafah ini mendidik raga dan jiwa untuk selalu bersikap objektif menakar badai desas-desus. Segala ketidakjelasan informasi harus dibawa ke balai adat, diletakkan di atas meja musyawarah bersama para niniak mamak.

Di sanalah benang kusut informasi diurai, mencari kesepakatan bulat yang didasari kebenaran hakiki, teguh pada pepatah bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.

Betapa indahnya tenunan budaya ini; membuktikan bahwa harmoni sosial adalah warisan termahal yang tak boleh ditukar dengan ego dan kebohongan sesaat.***


Daftar Pustaka

  • Daud, A. (1997). Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Navis, A. A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: PT Grafiti Pers.
  • Pelras, C. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar.
  • Suseno, F. M. (1997). Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Syamsuddin, dkk. (2021). Literasi Digital dan Etika Komunikasi: Menangkal Hoaks dengan Pendekatan Budaya Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.