Tak Sekadar Layak Huni
Konsep Rumah Syukur berbeda dengan program bedah rumah pada umumnya—yang dikerjakan oleh lembaga-lembaga lain di Indonesia, baik pemerintah maupun swasta.
Rumah Syukur tak hanya merenovasi rumah yang sudah ada. Program ini membongkar total rumah lama yang sudah tidak layak huni, lalu membangun ulang rumah tersebut dari awal.
Meskipun berjudul “layak huni”, tetapi pembangunannya tak hanya dikerjakan ala kadarnya.
OPSHID berpegang pada pendirian profesionalisme dalam pengabdian. Totalitas mengerjakannya. Konstruksi dan material bangunannya dipilih yang terbauk—karena semua itu merupakan instruksi langsung dari Ketua DPP OPSHID FKYME, Syekh Maulana Moch. Subchi Azal Tsani.
Yang perlu digarisbawahi adalah, ‘rumah syukur’, bukan sekarar ‘rumah layak huni’. Pasalnya, jika memakai istilah ‘layak huni’, kesan yang muncul untuk masyarakat umum, rumah itu memang tidak jelek, tetapi juga tidak bagus. Nanggung.
Namun, faktanya, rumah-rumah yang dibangun OPSHID se-Indonesia ini termasuk ‘mewah’. Bahkan ada yang mengomentari rumah tersebut ‘layak jual’.”
Seperti rumah pintar atau smarthome yang dibangun di Sukabumi, Jawa Barat tahun ini. Bukan rumah ala kadarnya.
Penerima program juga tak dipungut biaya sepeser pun. Seratus persen gratis. Tak hanya itu, penerima bantuan juga mendapatkan paket lengkap. Rumah sekalian diisi dengan perabot, dilengkapi fasilitas air dan listrik, dan taman di halaman rumah. Bahkan, pada beberapa kasus khusus, penerima bantuan juga menerima fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari.
Distimulus ST, Diselesaikan dengan Cara Patungan
Untuk pendanaannya, proyek Rumah Syukur tidak pernah ‘merepotkan’ pihak lain di luar OPSHID. Pendanaannya berasal dari kemandirian jiwa-jiwa OPSHID dan juga warga Shiddiqiyyah seluruh Indonesia Raya.
Juga ditunjang oleh PT Sehat Tentrem Jaya Lestari, perusahaan dari Shiddiqiyyah yang bergerak di bidang tembakau.
Namun demikian, kemampuan dana dari daerah yang ikut membangun RSLH juga berperan sekali dalam pembiayaan program ini. ST hanya memberikan dana motivasi sebesar Rp4 juta untuk kepanitia pusat. Selebihnya, dana dihimpun dari hasil patungan anggota OPSHID di seluruh Indonesia.
Dan sejauh ini, patungan itu selalu berhasil menutup seluruh biaya pembangunan tanpa meninggalkan utang. Inilah OPSHID dengan semangat bergerak membangun Indonesia Raya.***





Tinggalkan Balasan