AS kehilangan kapal penyapu ranjau saat konflik Iran meletus di Selat Hormuz.


KOSONGSATU.ID – ​Krisis strategis kini menghantam Amerika Serikat di perairan vital Selat Hormuz. Tepat sebelum eskalasi konflik terbuka dengan Iran yang meletus pada 28 Februari 2026, Angkatan Laut AS (US Navy) secara bertahap memensiunkan kapal penyapu ranjau kelas Avenger dari pangkalan Armada Kelima di Manama, Bahrain.

Langkah ini menciptakan celah kapabilitas yang fatal di tengah operasi militer bersandi Operation Epic Fury.

Menguti berbagai laporan media internasional, saat ini, tidak ada satu pun kapal penyapu ranjau khusus kelas Avenger yang tersisa di Timur Tengah. Empat kapal terakhir difokuskan di Sasebo, Jepang.

Kapal-kapal Avenger yang didesain dengan lambung kayu dan fiberglass terbukti ampuh menghindari ranjau magnetik. Sayangnya, empat kapal legendaris kelas ini, yakni USS Devastator, USS Dextrous, USS Gladiator, dan USS Sentry, resmi dinonaktifkan pada akhir 2025 lalu.

​Pemindahan armada ini bahkan dikonfirmasi jauh sebelum krisis mencapai puncaknya.

“Kapal-kapal Mine Countermeasures kelas Avenger yang telah dinonaktifkan dipindahkan secara aman sebagai bagian dari upaya transisi kekuatan Angkatan Laut AS yang sedang berlangsung di kawasan tersebut,” ujar perwakilan U.S. Naval Forces Central Command (NAVCENT) dalam rilis pers resminya pada 26 Januari 2026 lalu.

​Celah Keamanan di Tengah Konflik

​Transisi kekuatan ini justru mengundang kritik tajam dari para ahli. Kapal penggantinya, Littoral Combat Ship (LCS) kelas Independence yang bersenjatakan modul anti-ranjau nirawak, dinilai belum siap beroperasi di medan tempur intensitas tinggi.

Ironisnya, saat intelijen AS mengonfirmasi bahwa Iran mulai memblokade Selat Hormuz menggunakan ranjau, kapal-kapal LCS tersebut dilaporkan tidak berada di lokasi krisis. Pantauan pergerakan kapal pada pertengahan Maret 2026 menunjukkan armada pengganti ini malah bersandar di Malaysia dan Singapura.

​Di sisi lain, ancaman ranjau laut Iran sangatlah nyata. Estimasi menyebutkan militer Iran memiliki stok 6.000 hingga 8.000 unit ranjau, mulai dari ranjau dasar laut hingga ranjau tambat. Situasi ini langsung melumpuhkan lalu lintas kapal komersial di wilayah tersebut.

Tercatat ada penurunan drastis hingga 90 persen lalu lintas kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz sejak konflik pecah pada akhir Februari. Selat Hormuz sendiri memiliki lebar titik tersempit hanya 21 mil laut atau sekitar 39 kilometer, menjadikannya perairan yang sangat rawan.

​Ketiadaan kapal penyapu ranjau yang terdedikasi membuat operasi pembersihan menjadi sangat lambat. Peneliti pertahanan dari Foreign Policy Research Institute, Emma Salisbury, menyoroti hal ini pada 17 Maret 2026.

“Kenyataan yang tidak nyaman adalah bahwa pembersihan ranjau tersebut membutuhkan kemampuan MCM yang terdedikasi, sabar, dan metodis yang telah ditinggalkan oleh Angkatan Laut AS selama tiga dekade terakhir,” ungkapnya. Tanpa armada yang memadai, Amerika Serikat kini menghadapi ancaman kelumpuhan jalur distribusi energi global.***