Di pengasingan Ende, Bung Karno menggugat “Hadramautisme” yang dianggap melanggengkan kolonialisme. Ia mengajak umat Islam mengambil “api” kemajuan, bukan memuja “abu” tradisi yang sudah tidak relevan.
KOSONGSATU. ID – Bung Karno menggugat kejumudan beragama lewat kritik keras terhadap ‘Hadramautisme’. Sebuah refleksi tajam bagi Islam kontemporer.
Gugatan ini bukanlah sekadar letupan amarah intelektual, melainkan buah dari perenungan mendalam di balik jeruji tak kasat mata. Di pengasingan yang sunyi itulah, gagasan-gagasan radikalnya mengenai pemurnian semangat Islam mulai mengkristal menjadi sebuah strategi politik yang nyata.
Di bawah temaram lampu minyak pengasingan Ende, jemari Soekarno menari di atas kertas. Ia tidak sekadar menulis surat; ia sedang membedah anatomi masyarakat kolonial yang ia hadapi. Sebagai politisi ulung, Soekarno sadar betul bahwa perjuangan membutuhkan pemetaan yang presisi antara kawan dan lawan.
Kritik Soekarno terhadap istilah “Hadramautisme” bukan muncul dari ruang hampa atau kebencian buta. Ia melihat sebuah realitas di mana identitas keagamaan terkadang berkelindan dengan kepentingan penjajah.
KH. Zamzami Amin dari Ponpes Mu’allimin Mu’allimat Babakan Ciwaringin Cirebon menekankan bahwa Soekarno harus membuat garis demarkasi yang tegas. Tanpa pemisahan antara mereka yang berjuang untuk rakyat dan mereka yang setia pada penjajah, Indonesia tidak akan pernah merdeka.
Antara Sang Pahlawan dan Sang Mufti
Sejarah mencatat dua kutub yang kontras dalam komunitas Hadrami saat itu. Di satu sisi, kita mengenal AR Baswedan, sosok progresif yang mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI) pada 1934. Terinspirasi Sumpah Pemuda 1928, ia menegaskan bahwa keturunan Arab adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.
Namun, di sisi lain, Soekarno melihat sosok seperti Habib Usman bin Yahya. Sang Mufti Batavia ini justru mendapatkan penghargaan ‘Bintang Salib’ dari Belanda karena dedikasinya terhadap Ratu Wilhelmina.
Fatwa-fatwanya seringkali menyudutkan pejuang pribumi, termasuk saat ia melabeli peserta Geger Cilegon 1888 sebagai kelompok yang tersesat (ghurur). Bagi Soekarno, ini adalah bukti nyata bagaimana “Hadramautisme” yang jumud bisa menjadi alat pelanggeng kolonialisme.
Amarah Lillah dan Kerinduan pada ‘Api’ Islam
Dalam surat-suratnya kepada A. Hassan, pendiri Persis, Soekarno menumpahkan apa yang ia sebut sebagai Amarah Lillah—amarah karena cinta pada agama. Ia muak melihat Islam hanya menjadi “agama tjelak” atau sekadar ibadah ritual tanpa nyawa. Ia mengecam praktik poligami yang dipermainkan dan sikap taklid (ikut-ikutan) yang membabi buta.
“Islam is progress. Islam itu kemajuan,” tulis Soekarno dengan penuh semangat.
Bagi Bung Karno, umat Islam harus kembali menduduki “singgasana rasionalisme” seperti pada zaman keemasan Mu’tazilah, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Ia ingin umat Islam mengambil “api” sejarahnya, bukan sekadar memuja “abu” atau sisa-sisa kejayaan masa lalu yang sudah membatu dalam tradisi yang tidak relevan.
Refleksi untuk Zaman Kontemporer
Kritik Soekarno ini tetap relevan hingga hari ini. Di tengah banjir informasi melalui media sosial seperti YouTube, masyarakat mulai kritis terhadap klaim superioritas klan atau garis keturunan tertentu. Refleksi ini bukan untuk menyebar kebencian terhadap para habib atau dzuriat Rasul, melainkan sebuah ajakan untuk kembali pada esensi akhlak dan ilmu.
Tokoh-tokoh seperti Habib Quraish Shihab atau Habib Umar al-Hafiz membuktikan bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari klaim sepihak, melainkan dari kedalaman ilmu dan keteladanan yang nyata di tengah umat. Soekarno mengingatkan kita bahwa di hadapan kemajuan bangsa, semua elemen harus melebur tanpa merasa lebih tinggi dari yang lain.
Pada akhirnya, sejarah adalah guru yang jujur. Kritik Soekarno terhadap Hadramautisme adalah pengingat agar kita tidak terjebak dalam fanatisme golongan yang melumpuhkan akal sehat.
Untuk menjadi bangsa yang besar, kita membutuhkan Islam yang bergerak, Islam yang bernalar, dan Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam—sebuah “Api Islam” yang terus menyala melampaui sekat-sekat etnisitas.***
Daftar Pustaka
- Adam, Asvi Warman. (2009). Membongkar Manipulasi Sejarah. Jakarta: Kompas.
- Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana.
- Baswedan, A.R. (2014). Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Soekarno. (1964). Di Bawah Bendera Revolusi: Jilid Pertama. Jakarta: Panitja Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi.
- Steenbrink, Karel. (1984). Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta: Bulan Bintang.






Tinggalkan Balasan