Fiskal dan moneter menentukan harga barang hingga cicilan kredit. Penunjukan Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan dinilai memperkuat koordinasi dua kebijakan utama ekonomi tersebut.


KOSONGSATU.ID — Istilah fiskal dan moneter kerap terdengar dalam pemberitaan ekonomi, tetapi bagi sebagian masyarakat keduanya masih terasa abstrak. Padahal, keputusan yang lahir dari dua kebijakan ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari—mulai dari harga bahan pokok, peluang kerja, hingga besaran cicilan rumah atau kendaraan.

Secara sederhana, kebijakan fiskal berkaitan dengan bagaimana pemerintah mengelola uang negara. Ketika pajak diatur, subsidi diberikan, atau proyek infrastruktur dibangun, pemerintah sebenarnya sedang mencoba menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat. Belanja negara yang meningkat biasanya bertujuan mendorong aktivitas ekonomi agar bisnis bergerak dan lapangan kerja terbuka.

Di sisi lain, kebijakan moneter berperan menjaga stabilitas nilai uang. Melalui pengaturan suku bunga dan likuiditas perbankan, bank sentral berupaya menahan inflasi agar harga tidak melonjak terlalu cepat. Dampaknya terasa langsung: saat bunga naik, kredit menjadi lebih mahal dan konsumsi cenderung melambat; sebaliknya, bunga rendah biasanya membuat pinjaman lebih terjangkau dan mendorong belanja.

Ekonom sering menyebut fiskal dan moneter sebagai dua penggerak utama dalam satu sistem. Fiskal bekerja seperti pendorong pertumbuhan, sementara moneter bertugas memastikan laju ekonomi tidak terlalu panas. Tanpa koordinasi, keduanya bisa saling melemahkan—misalnya ketika pemerintah agresif membelanjakan anggaran tetapi suku bunga tinggi membuat dunia usaha enggan berekspansi.

Karena itu, keselarasan dua kebijakan ini sering dibaca sebagai indikator kesehatan ekonomi suatu negara. Stabilitas harga, ketersediaan pekerjaan, dan kepercayaan investor umumnya bergantung pada seberapa baik keduanya berjalan seirama.

Penunjukan Juda Agung dan Pesan Koordinasi Ekonomi

Dalam konteks tersebut, keputusan Presiden Prabowo Subianto melantik mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, sebagai Wakil Menteri Keuangan pada Kamis (5/2/2026) menarik perhatian pelaku pasar. Ia menggantikan Thomas Djiwandono yang beralih ke bank sentral.  

Arahan presiden kepada Juda menitikberatkan pentingnya sinergi fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi.  

Penunjukan ini dinilai strategis karena pemerintah memilih figur dengan pengalaman panjang di bank sentral, sehingga diharapkan mampu memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi nasional.  

Juda sendiri resmi mengisi posisi Wakil Menteri Keuangan setelah dilantik Presiden, menandai perpindahannya dari otoritas moneter ke pengelolaan fiskal negara.  

Mengapa Pasar Memperhatikan?

Perpindahan pejabat dari bank sentral ke kementerian keuangan bukan sekadar rotasi jabatan. Langkah ini sering ditafsirkan sebagai upaya mempererat komunikasi antarotoritas ekonomi—terutama di tengah ketidakpastian global yang menuntut respons kebijakan lebih cepat dan terkoordinasi.