Filsuf Islam bergelar ‘Al-Ghazali Modern’, Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas, wafat di Kuala Lumpur, Ahad (8/3/2026) pukul 18.47 waktu setempat.
KOSONGSATU.ID–Menteri di Departemen Perdana Menteri (Bidang Agama) Malaysia, Dr Zulkifli Hasan, mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui akun Instagram resminya. Ia menyebut almarhum sebagai seorang mujaddid yang menghidupkan kembali obor ilmu dan adab di dunia Islam.
“Almarhum kita kenal sebagai seorang mujaddid, pemikir, dan cendekiawan yang menghidupkan kembali obor ilmu dan adab di dunia Islam,” ujar Zulkifli. Ia menambahkan bahwa umat Islam kehilangan permata ilmu pengetahuan yang sangat berharga.
Warisan Konsep Ta’dib dalam Pendidikan
Lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 5 September 1931, Al-Attas dikenal tajam merespons tantangan modernitas. Ia konsisten membangun kerangka berpikir Islami (Islamic Worldview) untuk membendung sekularisasi ilmu pengetahuan.
Sumbangsih terbesarnya adalah pelurusan makna pendidikan Islam melalui konsep ta’dib. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar ta’lim atau tarbiyah, melainkan upaya aktif menanamkan adab.
“Adab bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh di universitas. Banyak orang berpengetahuan luas namun tidak memiliki adab,” ujar Al-Attas dalam sebuah kesempatan. Ia menjelaskan bahwa adab berkaitan erat dengan kebijaksanaan, yaitu pemahaman tentang posisi yang tepat bagi segala hal.
Jejak Akademik dan Gelar Profesor Diraja
Al-Attas memelopori pendirian berbagai lembaga penting, seperti Angkatan Pemuda Islam Malaysia (ABIM), Universitas Nasional Malaysia (UKM), serta Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) pada 1987. Melalui ISTAC, ia melahirkan banyak pemikir dari berbagai negara.
Atas kiprahnya, Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menganugerahkan gelar Profesor Diraja (Royal Professor) pada Oktober 2024. The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Yordania, juga menobatkannya sebagai salah satu dari “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia” pada 2024.
Sepanjang kariernya, ia menulis lebih dari 30 buku yang menjadi referensi utama dalam studi peradaban dan filsafat Islam kontemporer.
‘Al-Ghazali Modern’ Berpulang
Banyak kalangan menyebut Al-Attas sebagai Al-Ghazali di era modern. Jika Imam Al-Ghazali menyaring filsafat Yunani, Al-Attas membangun benteng rasionalitas Islam menghadapi hegemoni filsafat Barat.
Jenazah almarhum akan disalatkan di Masjid At-Taqwa, Taman Tun Dr Ismail (TTDI), Senin (9/3) pagi. Pemakaman akan dilakukan di Pemakaman Islam Bukit Kiara.
Kepergian Al-Attas meninggalkan duka mendalam bagi dunia akademik Asia Tenggara dan global. Gagasan dan warisan ilmunya akan terus hidup untuk mendidik peradaban generasi mendatang.***





Tinggalkan Balasan