Sejarawan NU Agus Sunyoto (1959 – 2021) menyebut penyebutan “Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus” sebagai agenda global untuk menghapus identitas bangsa dan mempercepat proyek globalisasi neoliberal.


KOSONGSATU.ID—Penyebutan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia dinilai sejarawan Nahdlatul Ulama (NU), Agus Sunyoto, sebagai bagian dari agenda global untuk menghapus identitas kebangsaan Indonesia.

Dalam diskusi HUT RI ke-68 pada 2013 lalu, Agus menyebut narasi itu sebagai bentuk pembodohan sistematis yang menyihir pikiran anak bangsa agar melupakan sejarah dan jati diri.

“Ini agenda global. Penyebutan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus adalah strategi untuk menghapus memori kolektif bahwa yang merdeka adalah bangsa, bukan negara,” ujar Agus.

Ia mengajak publik membaca kembali naskah Proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia… Atas nama bangsa Indonesia.”

“Di mana disebut Republik Indonesia? Republik belum ada saat itu. Ia baru berdiri sehari setelahnya, pada 18 Agustus 1945,” tegasnya.

Menurut Agus, agenda penyamaan bangsa dengan negara ini didorong oleh kepatuhan elite lokal terhadap proyek globalisasi. Globalisasi, jelasnya, menuntut dihapuskannya batas-batas kebangsaan—bahasa, etnis, budaya, dan wilayah—demi satu pasar terbuka dunia.

“Dalam global open society, semua identitas bangsa harus dihapus. Mereka tidak ingin rakyat punya kesadaran kolektif sebagai komunitas bangsa,” katanya.

Indonesia Dijadikan Pasar

Agus memaparkan bahwa kapitalisme global tidak membutuhkan bangsa, hanya pasar. “Bangsa dengan identitas kuat akan melawan eksploitasi. Maka, mereka buat rakyat kita lupa, dan cukup jadi konsumen.”

Ia memberi ilustrasi: “Bangsa adalah keluarga. Negara hanyalah rumah. Keluarga tetap ada meski rumahnya berubah. Tapi sekarang, rakyat kita dibuat lupa bahwa ia bagian dari keluarga bangsa.”

Agenda ini, menurutnya, dijalankan oleh para komprador neoliberalis—para elit yang rela menjadi kaki tangan kekuatan asing demi keuntungan politik dan ekonomi.

“Anak bangsa dijauhkan dari sejarah. Mereka dijadikan sekadar warganegara dalam negara liberal, tanpa kesadaran kebangsaan,” jelasnya.

Dalam Dialog Kebangsaan menjelang HUT RI ke-73 di Wates, 16 Agustus 2018, Agus menegaskan bahwa bangsa Indonesia belum benar-benar merdeka. Ia menyebut penjajahan kini berganti rupa menjadi Neo-Kolonialisme Imperialisme (Nekolim).

“Penjajah datang bukan dengan senjata, tapi modal dan perusahaan. Kita dijadikan kuli di negeri sendiri,” ujarnya.

Ia menutup dengan seruan perlawanan terhadap hegemoni neoliberalisme global. “Anak bangsa harus sadar, jangan manut menerima pandangan palsu yang disebar secara sistemik oleh para avonturir neolib. Ini soal jati diri dan kemerdekaan sejati,” pungkasnya.***