Nama Qasem Soleimani kini abadi dalam dentuman rudal balistik “Haj Qasem” yang menghantam Tel Aviv.
KOSONGSATU.ID – Nama Mayor Jenderal Qasem Soleimani kembali menggema di kancah geopolitik global. Enam tahun setelah kematiannya, identitas sang jenderal kini mewujud dalam bentuk fisik: rudal balistik jarak jauh “Haj Qasem”.
Diluncurkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Selasa (17/3/2026) malam, rudal ini menghantam wilayah Tel Aviv sebagai balasan atas tewasnya pejabat tinggi Iran, Ali Larijani.
Lahir pada 11 Maret 1957 dari keluarga buruh tani miskin di Kerman, Soleimani memulai hidupnya sebagai kuli bangunan. Namun, Revolusi Islam 1979 dan Perang Iran-Irak menempa bakat militernya hingga ia dipercaya memimpin Pasukan Quds pada tahun 1998.
Arsitek Perlawanan di Timur Tengah
Di bawah kendalinya, Pasukan Quds menjadi kekuatan intelijen dan militer yang paling disegani di kawasan. Soleimani dikenal sebagai “Komandan Bayangan” (The Shadow Commander) yang menyatukan kekuatan Hizbullah di Lebanon, milisi di Irak, hingga mempertahankan rezim di Suriah.
Pengaruhnya begitu luas hingga ia pernah secara terbuka menantang Direktur CIA saat itu, Jenderal David Petraeus, dengan menyatakan bahwa dialah yang mengontrol kebijakan Iran di Irak, Lebanon, Gaza, dan Afghanistan.
Prestasi militernya membuat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menganugerahinya Order of Dhū al-Faqār, penghargaan militer tertinggi Iran, pada Maret 2019. Soleimani adalah orang pertama yang menerima medali tersebut sejak revolusi 1979.
Tragedi Bandara Baghdad dan Warisan “Haj Qasem”
Langkah sang jenderal terhenti pada 3 Januari 2020. Sebuah drone Amerika Serikat atas perintah Presiden Donald Trump meluncurkan rudal ke konvoi Soleimani di Bandara Internasional Baghdad. Kematiannya memicu duka nasional di Iran, dengan jutaan orang menghadiri prosesi pemakamannya.
Namun bagi Teheran, kematian Soleimani bukanlah akhir. Pendebutan rudal balistik “Haj Qasem” dalam serangan ke Israel pada Maret 2026 ini menjadi simbol bahwa ideologi perlawanan yang ia bangun tetap hidup. Rudal tersebut memiliki spesifikasi teknis yang mampu menembus sistem pertahanan udara modern, membawa pesan dendam sekaligus penegasan kekuatan militer Iran di mata dunia.




Tinggalkan Balasan