Publik Barat keliru. Kematian pemimpin Iran bukan akhir, melainkan memicu kemartiran strategis yang justru menguatkan negara.
KOSONGSATU. ID – Dunia sering menganggap pembunuhan tokoh besar, seperti Ali Larijani dan Ayatullah Ali Khamenei sebelumnya, sebagai pukulan telak bagi Iran. Banyak pengamat mengira hilangnya figur sentral berarti hilangnya kekuatan.
Namun, pandangan ini luput, bila melihat realitas di lapangan. Dalam konteks Iran, peristiwa mematikan tersebut langsung berubah wujud menjadi “kemartiran strategis”. Kematian tokoh penting justru memicu kekuatan baru bagi perjuangan, bukan melemahkannya.
Kegagalan Strategi ‘Decapitation’ AS dan Israel
Selama puluhan tahun, Amerika Serikat dan Israel rajin menerapkan strategi serupa. Mereka membunuh pemimpin lawan dengan satu harapan utama: sistem musuh akan runtuh atau setidaknya mengalami kekacauan parah.
Logika mereka sangat sederhana. Jika pemimpinnya hilang, organisasi otomatis melemah. Ahli militer menyebut taktik ini sebagai decapitation atau “pemenggalan kepala”. Namun, fakta sejarah membuktikan strategi ini berulang kali gagal total saat mereka menerapkannya terhadap Iran.
Konsep Menang-Menang dalam Kematian
Mengapa taktik pembunuhan ini mandul? Jawabannya terletak pada cara berpikir bangsa Iran yang sangat berbeda. Masyarakat dan pemerintah Iran menganggap kematian seorang pemimpin sebagai syahid, yang justru mengalirkan energi baru.
Pengorbanan tersebut menginspirasi rakyat, mengikat tali solidaritas, dan membuat tujuan perjuangan terasa makin mendalam. Bahkan, para petinggi Iran menyadari sepenuhnya potensi ini. Mereka menolak melihat kematian sebagai sebuah kekalahan. Prinsip mereka memegang dua jalan pasti: “Jika menang di dunia, maka itu adalah kemenangan. Jika gugur (syahid), maka itu juga merupakan kemenangan hakiki”.
Pesan Terakhir Larijani dan Simbol Perlawanan Abadi
Sehari sebelum gugur, Ali Larijani sempat merespons sayembara puluhan juta dolar dari AS yang memburu lokasi para pemimpin kunci Iran. Melalui akun X pribadinya, ia mengutip perkataan Imam Husain:
”Aku memandang kematian sebagai kebahagiaan, dan hidup bersama para penindas sebagai penderitaan.”
Kutipan ini menegaskan sikap tanpa rasa takut para pemimpin tersebut. Begitu musuh menewaskan sang tokoh, ia langsung menjelma menjadi simbol perlawanan abadi, persis seperti kisah Imam Husain di Karbala. Simbol kemartiran ini kemudian menciptakan efek domino yang kuat:
- Membangkitkan kembali semangat juang rakyat.
- Memperkuat legitimasi pemerintah di mata publik.
- Membuat struktur sistem negara menjadi lebih solid dan rapat.
Akibatnya, strategi “pemenggalan kepala” andalan AS dan Israel justru berbalik menyerang mereka sendiri. Bukannya menghancurkan mental bangsa Iran, taktik mematikan ini malah menempa mereka menjadi bangsa yang lebih kuat dan tahan banting dalam menghadapi berbagai tekanan global.***




Tinggalkan Balasan