Melacak jejak Ali Khamenei: dari kehidupan miskin dan siksaan penjara, hingga bangkit memimpin Iran.


KOSONGSATU. ID– ​Lahir pada 16 Juli 1939 (24 Tir 1318) di kota suci Masy-had, Ali Khamenei tumbuh menembus kerasnya kehidupan keluarga ulama yang serba kekurangan.

Sang ayah, Sayyid Jawad Khamenei, mendidik anak-anaknya dengan nilai zuhud yang kental. Rumah masa kecilnya di kawasan miskin Masy-had hanya seluas 60 hingga 70 meter persegi, dengan satu kamar dan sebuah ruang bawah tanah yang gelap.

​Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Khamenei mengingat masa itu dengan penuh keharuan: ​”Ayah saya adalah ulama terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit. Sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu saya dengan susah payah menyiapkan makan malam… hidangannya hanya roti dan kismis.”

​Sejak usia empat tahun, ia melangkah ke maktab bersama sang kakak, Sayyid Mohammad, untuk mengenal aksara dan membaca Al-Qur’an, sebelum akhirnya masuk ke sekolah Islam “Daar At-Ta’lim Diyanati”.

​Kawah Candradimuka Intelektual dan Bakti Kepada Orang Tua

​Kecerdasan Khamenei membawanya melesat menembus berbagai jenjang pendidikan hauzah ilmiah. Ia menimba ilmu dasar dan sastra Arab langsung dari sang ayah serta ulama Masy-had. Pada usia 18 tahun, ia sudah memasuki kelas tingkat tinggi (darsul kharij).

Sempat mencicipi dinamisnya pendidikan di Najaf pada 1957, ia terpaksa pulang karena ayahnya tidak merestui ia menetap di sana.

​Pengembaraan intelektualnya berlanjut ke Qom (1958–1964). Di sanalah ia menyerap ilmu dari tokoh-tokoh raksasa seperti Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Allamah Taba’tabai, dan Imam Ruhollah Khomeini.

Namun, di tengah pencerahan akademis itu, sebuah kabar duka datang: ayahnya kehilangan penglihatan sebelah mata akibat katarak. Mengabaikan prediksi rekan-rekannya bahwa ia akan membuang masa depan emasnya di Qom, pemuda 25 tahun ini memilih pulang ke Masy-had untuk merawat sang ayah.

“Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya,” tuturnya mengenang momen persimpangan tersebut.

​Memantik Api Revolusi dan Menantang Maut

​Kesadaran politik Khamenei tidak lahir dari ruang hampa. Percikan perlawanannya tersulut pada 1952 ketika Sayyid Mujtaba Navvab Safavi berpidato membongkar kebobrokan rezim monarki Pahlavi. Sejak 1962, ia resmi berdiri di barisan Imam Khomeini untuk melawan kebijakan intervensionis Amerika Serikat dan rezim Shah.