Rumah Khusnul Abidin di Gresik dibangun seluas 45 meter persegi. Kepala desa menawarkan diri menjadi ketua panitia pembangunan.

KOSONGSATU.ID — DPC Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Kabupaten Gresik memulai pembangunan Rumah Syukur untuk Khusnul Abidin, 37 tahun, Minggu, 1 November 2026.

Abidin bekerja sebagai buruh kantin dan tinggal di Dusun Prupuh, Desa Prupuh, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik.

Ketua DPC PCTA Indonesia Gresik Moch. Anas Tohir mengatakan rumah tersebut dirancang berukuran 5 × 9 meter atau seluas 45 meter persegi.

Pembangunan ditargetkan selesai dalam 30 hari. Penyelenggara juga merencanakan penyediaan perlengkapan rumah tangga, termasuk kasur dan kompor.

Program itu digelar untuk mensyukuri Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Jadwal resmi penyerahan rumah belum diumumkan.

Kepala Desa Bersedia Memimpin Panitia

Kepala Desa Prupuh Inggih Musholin menawarkan diri menjadi ketua panitia pembangunan. Menurut Anas, kesediaan itu didasari kepedulian terhadap Abidin.

Dukungan juga disampaikan Imam K., yang mewakili Koramil Panceng. Ia menyatakan kesiapan mendampingi kegiatan bersama Babinsa Desa Prupuh hingga pembangunan selesai.

Penyelenggara mengundang Forkopimcam Panceng, pemerintah desa, serta Ketua DPD PCTA Indonesia Puryono bersama jajarannya.

Tokoh agama Hindu, perwakilan penghayat kepercayaan Sapto Darmo, serta warga Shiddiqiyyah Gresik juga tercantum dalam daftar undangan.

Daftar tersebut menunjukkan pihak-pihak yang diundang, bukan konfirmasi kehadiran seluruhnya.

Sempat Meragukan Tawaran Bantuan

Anas mengatakan Abidin menangis ketika mengetahui rumahnya akan dibangun melalui program Rumah Syukur.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Abidin mengaku sempat sulit percaya ketika menerima tawaran melalui kepala desa.

“Pikiran saya, kalau rakyat kecil dapat doorprize atau hadiah itu paling mentok lemari baru atau sembako. Lha kok ini malah dapat rumah baru,” katanya.

Dengan penghasilan sekitar Rp30.000 sehari, Abidin harus memenuhi kebutuhan keluarga. Ia menempati rumah tersebut bersama istri dan putra mereka.

Sebelum menerima bantuan, Abidin menelusuri kegiatan PCTA Indonesia melalui Instagram dan TikTok. Ia ingin memastikan pembangunan dapat berlangsung sampai selesai.

Kekhawatirannya ialah rumah telanjur dibongkar, tetapi pengerjaan berhenti karena kebutuhan biaya belum terpenuhi. Setelah mencari informasi, ia memutuskan menerima tawaran tersebut.

Kini, penyelenggara menargetkan rumah beserta perlengkapan dasarnya dapat diselesaikan dalam sebulan. Kepastian waktu penyerahan masih menunggu perkembangan pembangunan. ***